Featured Post

Legenda Olah Raga Indonesia

Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia d...

Sep 21, 2010

Sampah Sisa Makanan

Sisa Makanan
Sisa Makanan


Sampah Sisa Makanan
Sepiring pisang rebus terhidang diatas meja, ditemani segelas teh hangat, satu toples kue ali, dan sepiring ketan goreng (orang setempat menyebutnya uli). Pagi itu udara di sekitar kaki Gunung Salak sangat sejuk dan segar. Keceriaan mengambang disinari cahaya matahari yang baru muncul dan dimeriahkan oleh kicau burung di dahan-dahan pohon. Hidup sungguh damai ...

Pisang yang direbus ini berasal dari pematang sawah yang padinya baru dipanen minggu lalu.

Pisang rebus hanyalah makanan kampung, yang sepertinya tidak ada nilai ceritanya. Beda dengan makanan dan minuman dari restoran atau cafe yang "sangat luar negri", yang setiap jenis makanannya membawakan cerita sendiri dan tentunya prestise tersendiri bagi yang memakannya.

Kira-kira mana yang akan kita ceritakan, ketika kita makan pisang rebus atau ketika kita menyeruput kopi di gerai kopi 'sangat luar negri'? Well... kayaknya kerenan yang gerai kopi 'sangat luar negri' itu ya :)

Tidakkah setiap makanan yang terhidang dihadapan kita itu membawa kisahnya tersendiri. Contohnya pisang rebus dan teman-temannya itu. Mereka merupakan wujud dari semangat para petani. Mereka, para petani itu, bangun pagi-pagi sekali, kemudian pergi ke sawah dan ladangnya, untuk menanam benih lalu merawatnya penuh perhatian sampai tiba saat dipetik buahnya.

Demi tanaman-tanamannya, petani tak peduli panas maupun hujan. Bagi para petani itu, matahari adalah kawan, hujan adalah hadiah, air memberi kehidupan, tanah menyediakan makanan, dan angin mengobati kelelahan. Alam merupakan asal dari semua makanan yang dihasilkan mereka.

Sungguh beda dengan orang kota, dimana matahari dihindari, hujan sumber bencana, tanah adalah kotor dan memalukan sehingga harus ditutupi beton, sedangkan angin telah bercampur dengan debu dan asap dan menjadi sumber bermacam penyakit. Seakan-akan alam telah menjadi musuh bagi orang-orang kota.

Btw, makanan 'sangat luar negri' juga tentu punya kisahnya tersendiri. Makanan itu tersaji berkat sebuah sistem. Sistem itu terbentuk dari hasil karya para pemikir. Para pemikir itu tentu juga telah melalui masa-masa sulit, baik ketika kuliah dulu ataupun ketika memulai usahanya. Mungkin waktu kuliah dulu, ada yang nyambi sebagai pelayan toko, waitress, dsb, untuk menambah biaya kuliah. Atau juga ketika bernegosiasi dengan pihak bank untuk meyakinkan mereka bahwa usahanya akan berhasil, dsb.

Nah, kalau setiap makanan tersebut punya 'kisah perjuangan'-nya masing-masing, pantaskah kita membuang-buangnya. Ketika makanan itu tidak enak menurut kita, atau kita lagi tidak mood, atau (ini yang menyedihkan) karena gengsi,saat orang lain makanannya sudah habis sedangkan kita belum, lalu kita berhenti makan dengan alasan kenyang. Makanan pun jadinya tersisa dan sudah 99,9% nasibnya akan berakhir di tong sampah.

Kita mungkin bisa berkilah: "gue beli makanan itu pake uang gue, seterah gue dong, mau dimakan kek, mau dikasih kucing kek, mau dibuang kek". Ya, itu 1000% betul. Kita sudah membeli makanan itu, dan kita berkuasa penuh terhadap makanan itu. Namun ini masalahnya. Perasaan berkuasa ini membuat kita melihat hanya dari lingkup sempit. Kita beli makanan, cicip-cicip, buang, lap mulut pake tisu, bayar, done. That's it, everybody happy. Pedagang senang, kita puas.

Namun kita lupa, bahan makanan tersebut hasil keringat para petani. Toko pedagang tersebut, hasil negosiasi alot dengan pihak bank. Waitress dan cleaning servicenya berasal dari keluarga biasa yang tidak punya uang banyak untuk bayar biaya kuliah, sehingga lulus SMA mereka langsung kerja jadi cleaning service.

Pada makanan yang kita buang tersebut, bersemayam semangat petani, pedagang, cleaning service dan semua pihak yang terlibat dalam proses penghidangan makanan tersebut.

Itu baru dari satu sisi. Disisi lain, makanan terbuang tersebut tentu menjadi sampah. Padahal Jakarta sudah sangat produktif kalau dalam hal menciptakan sampah. Tak kurang dari 6000 ton sampah dihasilkan penduduk Jakarta tiap harinya (http://www.tribunnews.com/2010/05/30/inilah-ancaman-sampah-jakarta-sehari-6-ribu-ton).
Makanan yang kita buang-buang tersebut tentunya menjadi bagian dari yang 6000 ton itu. Dan tidak cukup sampai disitu, makanan tersebut akan membusuk, dan tentunya menjadi sumber penyakit.

Ok lah, kita dan anggota keluarga kita tinggal di lingkungan yang nyaman, jauh dari tumpukan sampah. Anak-anak kita juga mengkonsumsi makanan bergizi, sehingga daya tahan tubuhnya baik dan tidak mudah terserang penyakit. So, mau sampah sebanyak apa juga gak ngefek ke keluarga kita.

Namun kita juga perlu menyadari, makanan kita yang terbuang dan membusuk, berakhir di tempat, dimana juga banyak manusia yang tinggal disekitarnya. Bibit-bibit penyakit yang timbul dari makanan busuk, menyerang anak-anak disekitarnya. Dan sudah tentu, anak-anak yang tinggal di sekitar tempat sampah bukanlah anak yang selalu memakan makanan bergizi, sehingga tahan penyakit. Dengan mudah mereka akan terserang berbagai penyakit. Dan... salah satu penyebabnya adalah makanan yang kita buang-buang.

So ?

Gue kan udah beli, suka-suka gue dong ...