Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Sep 21, 2010

Sarung


Sarung
Sarung

Sarung

Untuk ke-banyak-kian kalinya saya mengikuti shalat berjamaah. Dan untuk ke-banyak-kian kalinya saya berdiri di shaf yang bukan shaf pertama. Dan untuk ke-banyak-kian kalinya, orang yang berdiri di depan saya adalah orang yang mengenakan sarung. Dan seperti pada umumnya, orang tersebut memakai sarungnya dengan 'gaya bersarung', yakni merek sarung tampil dibawah diantara dua tumit.
Sambil sedekap dan menunduk, pada rakaat pertama itu pikiran saya melayang-layang.

Saya bertanya-tanya emang peraturan memakai sarung itu harus gitu ya, mereknya tampil diluar, dibawah diantara dua tumit? Kalau gak mengikuti 'aturan' seperti itu nggak apa-apa kan? terus kenapa orang ini dan sekian banyak orang lainnya yang menggunakan sarung, gayanya seperti ini?
Saya mulai suudzon :).

Orang memakai sarung dengan merek tampil di bawah itu biar kelihatan kali ya, hey lihat saya memakai sarung yang diiklankan di TV, atau, sarung saya mereknya "ibukota provinsi", atau, saya memakai sarung "Al-Mahal" karena selera saya kan tinggi, dsb, dll.

Meski badan tegak dan pandangan menunduk, angan saya melesat mengembara semakin jauh. Kali ini berkembang tidak lagi seputar sarung, tapi meningkat ke pakaian secara umum. Orang mengenakan sarung saja ada 'gaya' nya, apa lagi pakaian yang lainnya. Baju ada gaya nya, celana ada gayanya, rok, sepatu, tas, asesoris, rambut, jenggot, a, b, c, d. Semua ada gayanya. Dan dengan berlandaskan suudzon saya mengklaim, bahwa kadang-kadang orang tidak memakai akal sehatnya ketika mengikuti 'gaya'.

Contoh, secara akal sehat, di daerah puncak yang suhunya dingin, maka pakaian yang masuk akal adalah pakaian yang tebal atau yang menutup sebanyak-banyaknya bagian tubuh untuk melindunginya dari hawa dingin. Namun coba kita perhatikan, banyak para gadis dan wanita, dengan santainya mengenakan tank top, meski saat itu malam hari dan gerimis rintik-rintik. Kalau orang waras kan gak mungkin kayak gitu, ya nggak. Cuman masalahnya, para tank top-er yang saya klaim 'nggak waras' itu, banyak juga yang eksekutif muda, sekolahnya tinggi dengan segudang prestasi. Kalau begitu mereka waras dong :) Apanya yang salah ya ?

Nah setan sok pintar berhasil merasuki saya. Saat itu saya 'kesurupan' menjadi pengamat fashion nomor wahid. Saya ingat sepenggal adegan dalam sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' yang sempat diputar ulang beberapa waktu yang lalu di sebuah stasiun TV. Saat itu Sarah berkunjung ke rumah 'mak Nyak' dengan mengendarai mobil sedannya. Sarah menggunakan celana jeans. Celana jeans yang dikenakannya sangat longgar, tidak ketat mencetak bulat seperti sekarang. Seperti kita tahu, sinetron SDAS itu diproduksi pertengahan 90'an. Dan celana jeans 'gaya' saat itu, ya yang dikenakan si Sarah itu.

Jika kita suka melihat foto-foto klasik,film-film klasik atau film yang ceritanya berlatar 'jadul' entah itu 70'an, 50'an Perang Dunia ke II, 20'an, dan seterusnya ke belakang. Maka kita akan melihat 'gaya' berpakaian yang lain dari yang sedang tren sekarang ini. Misalnya gaya pakaian tahun 20'an di negara-negara barat (untuk urusan fashion, kita kan banyak berkiblat ke barat he..he..he..), untuk laki-laki tata rambut sisir rapi, wajah kelimis atau dihias kumis, dengan setelan jas dan dasi, dengan kepala memakai topi fedora atau homburg. Untuk wanita, gaun panjang ditemani berbagai asesoris dan hiasan rambut berupa berbagai model topi dan turban.

Coba bandingkan dengan sekarang. Untuk laki-laki sih mungkin gak begitu banyak perubahan. Namun untuk wanita, banyak sekali perubahannya. Kalau dulu wanita memakai rok panjang menutupi kaki, maka seiring berjalannya waktu maka rok itu makin menyusut naik keatas, mulai dari matakaki, betis, lutut, dan paha (semoga saja terus menyusut keatas tanpa batas he..he..he..).
Meski untungnya sekarang jamannya alternatif, untuk penyakit ada pengobatan alternatif, untuk mudik ada jalur alternatif, nah fashion juga ada fashion alternatif. Selain jalur utama yang menyusut-menyusut itu, sekarang mulai merebak fashion yang kebalikannya. Ada tank top ada blazer, ada mini skirt, ada gamis, dan banyak lagi pilihan.

Nah yang jadi pertanyaan adalah, mengapa orang-orang memilih 'gaya' yang lagi tren, meski secara akal sehat, agak gimanaa gitu. Apa seperti kisah sarung diatas ya, biar mereknya yang "Al-Mahal" dilihat orang? Kalau begitu apa wanita yang memakai celana pendek atau baju cowak yang kelihatan belahan dada dan lubang pusar plus renda CD nongol, juga begitu, biar 'milik-miliknya' kelihatan :) maaf maaf, mungkin itu contoh yang terlalu ekstrim kali ya, meski bukan nggak ada dandanan yang kayak begitu.

Apakah hukum kepatutan sekarang berada di tangan para designer dan trend setter mode. Kalau para desainer dan trendsetter bilang, rok mini plus tank top ditutup blazer elegan buat wanita karir, maka seluruh dunia teriak sama, rok mini patut bagi wanita karir. Kalau para desainer trend setter bilang, celana pendek itu keren, rame-rame mulai ABG sampe nenek-nenek pake celana pendek.
Gimana ya kalau para desainer trend setter bilang, Bikini dan G-String adalah busana elegan wanita aktif dan dinamis?

Ya.....Tren harus diikutin dong... ^_^