Featured Post

Legenda Olah Raga Indonesia

Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia d...

Jan 21, 2011

10 Pekerjaan yang paling men-stress-kan

stressful workplace
Tempat kerja yang membuat stress

10 Pekerjaan yang paling men-stress-kan

Stress adalah pencapaian dan identitas manusia modern. Malah jika dalamsebuah perbincangan kita menceritakan bahwa kita stress kerja, ada semacam 'kebanggaan' tersendiri. Kebanggaan bahwa kita jadi manusia masakini yang berenang dalam arus dinamika kerja. Malah kata workaholik menjadi semacam penanda 'good quality' bagi seseorang :)

Disisi lain, sebuah situs ketenagakerjaan careercast(www.careercast.com) pernah mengadakan suatu polling di Amerika tentangpekerjaan yang paling membuat stress. Hasil polling tersebut kemudiandiangkat menjadi sebuah artikel oleh Linda C. Brinson dan kemudian dipublikasikan di situs howstuffworks.com dengan judul "10 Most StressfulJobs inAmerica" (http://money.howstuffworks.com/10-most-stressful-jobs-in-america.htm/printable).

Berikut adalah daftarnya:
10. Pekerja Tambang (Miner)
9. Pimpinan perusahaan (Corporate Executive)
8. Reporter media cetak (Newspaper Reporter)
7. Pilot dan pengatur lalulintas penerbangan (Those Who Fly, and ThoseWho Help Them)
6. Emergency Personel semisal pemadam kebakaran dan Petugas UGD
5. Pekerja Medis (Medical Professional)
4. Guru (Teacher)
3. Polisi (Police Officer)
2. Militer yang sedang bertugas (Deployed Military Personnel)
1. Orangtua yang bekerja (Working Parents)

Lho kok peringkat pertamanya justru Orang tua yang bekerja. How come?Sepertinya pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh mereka yang telah mempunyai anak. Dan 'sensasi' punya anak ini sepertinya agak sulit diteorikan atau dibuat rumusnya.

Namun dari daftar diatas kita bisa sedikit membuat suatu logika rumus.Jika peringkat 10 sampai 2 mempunyai nilai stress 1 misalnya, maka jika pekerja tersebut juga menjadi orangtua maka stressnya nambah 1 (1+1=2).Dikantor stress dengan tumpukan pekerjaan, sampai dirumah, anak sakitlah, anak berulah lah, dsb.

Tidak sedikit diantara mereka yang tidak mampu menangani keduanya, jadi pekerja merangkap orang tua. Kalau kerja, seberat apapun, orang mau menjalaninya bahkan mungkin menikmatinya. Namun ketika menangani anak, karena jauh lebih kompleks daripada pekerjaan terberat mereka di kantor(lagi-lagi hanya orang yang telah punya anaklah yang tau ke-kompleks-annya :) ), banyak yang akhirnya (menyerah)kannya kepada baby sitter bersertifikat dan bergaji mahal (berarti kualitas babysitternya bagus dong :) ). Mereka tidak mampu menangani anak-anaknyakarena energinya terkuras di tempat kerja.

Orang tua jenis yang tadi sih masih mending, karena setidaknya merekaberusaha menjalankan fungsinya sebagai orang tua meski denganmenggunakan alat bantu berupa baby sitter. Yang dikhawatirkan adalah,ada orang tua yang mengatakan "enakan kerja daripada ngurus anak". :) Dan ini kenyataan sodara-sodara ...