Featured Post

Legenda Olah Raga Indonesia

Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia d...

Jan 31, 2011

Joe Kredit Van deRenten

Kartu Kredit
Kartu Kredit

"Jeng Sumi maaf ya, barangkali jeng Sumi punya rejeki lebih. Saya mau minjam uang 20 ribu aja, buat beli beras dan lauknya." berkata Ngatinah pada Sumirah pada suatu pagi. "Anu, suami saya belum balik narik. Mungkin ngojeknya lagi sepi. Atau mungkin belum kebagian giliran narik kali ya. Wong yang ngojek di perempatan itu buanyak banget." Ngatinah menambahi sekaligus menerangkan alasannya meminjam uang.

Mendengar keluh tetangganya, Sumirah tersenyum sambil mengeluarkan uang dari saku daster lusuhnya, kemudian diserahkan pada Nagatinah."Alhamdulillah yu, aku sedang ada kelebihan. Nih pake aja dulu."

"Alhamdulillah, makasih ya jeng", Ngatinah menerima uang itu dengan perasaan haru dan penuh terima kasih. Hari ini, dia bisa membeli beras dan lauk untuk makan dia sekeluarga.

Ngatinah dan Sumirah sudah bertetangga cukup lama, mereka sama-sama menempati kontrakan rumah petak milik Haji Husin. Meski mereka tinggal di Ibu Kota Negara, namun hidup mereka tidak lebih enak dibandingkan saudara-saudara mereka yang tinggal di kampung sana. Karjo, suami Ngatinah, dulunya pekerja operator mesin di sebuah pabrik. Namun ketika pabrik itu tutup, dan ribuan karyawannya diPHK, Karjo jadi nganggur. Katanya sih,pabriknya merugi dan si pemilik pabrik tidak bisa membayar utangnya ke bank. Akhirnya pabrik dinyatakan bangkrut. Untunglah ketika diPHK, dia mendapat pesangon. Meski nilainya tidak begitu besar namun cukup untuk dipakai membeli sepeda motor yang sekarang dipergunakannya sarana menyambung hidup. Karjo jadi tukang ojek.

Namun rupanya jadi tukang ojek bukanlah ide Karjo saja, orang lain yang juga korban PHK, punya ide yang sama dan mengambil langkah yang sama. Tukang ojek pun jumlahnya meningkat drastis. Di perempatan jalan itu saja, sekarang mangkal tak kurang dari 30 tukang ojek. Untuk mencegah terjadinya perselisihan, diberlakukanlah sistem giliran. Dengan banyaknya tukang ojek, otomatis pendapatan pun tidak banyak. Bisa mempertahankan dapur ngebul saja itu sudah untung.

***
"Bro, sekarang udah ada type baru yang lebih canggih. Lihat nih gambarnya, keren kan." Ryan menggeser laptopnya dan menunjukan sebuah halaman website ke Jefri sahabatnya. Mereka menempati meja kecil dipojok ruangan. Di tengah meja terhidang dua gelas tinggi kopi dan dua piring kecil roti. Mereka berdua tengah nongkrong di sebuah gerai kopi merek luar negri di lantai dasar sebuah Mall.

"Gimana bro?" Ryan meminta penegasan.
"Bagus, keren juga",Jefri menimpali.
"Ya iya lah keren, kalo kagak mah nggak bakalan masuk daftar 'must have' gua", Ryan melanjutkan. "Counternya kan ada di lantai empat bro, gimana kalau kita sekarang naik. Gue mau beli".
"Buat apaan lo beli, bukannya yang sekarang lo pake belum setaun umurnya"
"Yah elo, hidup jaman sekarang itu harus update bro, biar tetep eksis."
"Update, eksis, basi lo, ngomong aja lo mau pamer sama si Cathrin."
"he..he..he.. ya itu juga salah satunya bro".
"halah, udah ayo naik" kata Jefri sambil mulai menutup laptopnya dan mengemasi barang-barangnya.
"By the way bro, gw pinjem credit card lo ya. Punya gue udah over limit"
"Lho, bukannya credit card lo ada 4?" Jefri bertanya sambil alisnya bertaut.
"iya sih, tapi yang tiga udah over limit, yang satu tinggal dikit lagi, nggak bakalan cukup."
"hah, hari gini kartu lo udah overlimit? lo pake buat apaan aja?"
"Ya banyak lah, secara gw kan banyak kebutuhan."
"eh lo tu ye, jangan kan anak istri, pacar aja belum punya, sok banyak kebutuhan."
"Alaaa.... udah deh mau minjemin gue nggak?"
"kagak mau, ntar kalo gw butuh gimana?"
"yah bro, sekali ini aja, ini penting bro penting."
"lagak lo sok penting, tampang lo tuh nggak penting tau nggak, ya udah ayo jalan."

Mereka berdua pun keluar dari gerai kopi dan naik ke lantai 4. Selesai bertransaksi mereka memutuskan untuk pulang, karena tidak ada lagi yang ingin mereka lakukan. Ketika turun mereka tidak menggunakan lift tapi memakai eskalator, sekalian cuci mata katanya. Ketika sedang turun di eskalator lantai 3 ke lantai 2, Jefri tiba-tiba menyikut lengan sahabatnya. "eh men, lihat siapa yang naik itu? Kayak si Cathrin, eh iya si Cathrin, tapi sama cowok, pegangan tangan lagi, mesra banget. Siapa tu cowok?".
Ryan melihat ke arah yang ditunjuk Jefri. Hatinya berdebar. "Gue nggak kenal." Ryan menjawab dengan suara bergetar.
"Ntar dulu, kalo nggak salah itu kan Alex, iya bener itu Alex yang jadi bintang iklan eL-Man itu." Kata Jefri."ha..ha..ha.. malang nian nasibmu kawan, udah bela-belain ngutang buat mempesonakan sang bunga idaman. Sayang sungguh sayang sang bunga keburu digaet orang ha..ha..ha..."
Ryan menanggapi ledekan sahabatnya itu dengan senyum kecut dan langkah yang lesu.

***

"Butuh dana Tunai? Jaminan BPKB Motor/Mobil, 3 jam Dana Cair. Hubungi 08xx xxxx xxxx", demikian lah kira-kira bunyi dari beberapa brosur atau spanduk yang banyak kita temui di pinggir-pinggir jalan. Baiknya orang-orang itu ya. Mereka mau berbagi kelebihan uang mereka kepada orang lain (meski mereka juga akan meminta kelebihan uang, ketika kita mengembalikan pinjaman he..he..he..). Adapun sebagai bukti kepercayaan, cukup menitipkan BPKB motor/mobil. Prosesnya pun sepertinya tidak bertele-tele, buktinya mereka berani mengatakan dalam 3 jam uang akan diberikan.

Kalau ada award-award buat para entrepreneur, kayaknya si pemilik usaha "jaminkan BPKB, dana cair" ini patut masuk nominasi untuk kategori pengusaha yang jeli. Soalnya dia sangat jeli milihat besarnya peluang di pasar 'peminjaman uang'. Sekarang ini kan orang senang sekali pinjam uang alias ngutang.

Orang sekarang dikelilingi oleh hal-hal yang membuai mereka. Entah itu barang elektronik, pakaian, makanan, kendaraan, tempat rekreasi, hobby, dll. Hal-hal tersebut oleh para pembuatnya dikemas dan dipromosikan sedemikian rupa sehingga menimbulkan pengaruh rayuan yang luar biasa. Orang-orang jadi terangsang untuk memiliki. Dan alasan orang memiliki sesuatu itu bukan lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan, sekarang alasan orang memiliki itu adalah untuk memuaskan hasrat.

Ketika orang haus, dia membutuhkan air minum. Maka dia pun pergi ke warung, membeli air minum kemasan ukuran gelas dan diminum.Yang dia lakukan sekarang ini hanyalah sekedar memenuhi kebutuhan tubuhnya yang kehausan. Namun ketika orang itu tidak haus, kemudian dia melihat minuman yang berpenampilan menggairahkan, dia pun membelinya. Saat itu, yang dia perbuat bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan namun sudah memuaskan hasrat nafsunya.

Contoh-contoh kelakuan yang mengumbar nafsu ini juga banyak terjadi disekitar kita. Bagaimana seseorang meski kebutuhan dia akan alat komunikasi telah terpenuhi, namun tetap membeli alat komunikasi yang baru. Gonta-ganti model dan punya lebih dari satu alat komunikasi. Masih mending kalau dalam aksinya mengumbar hasrat itu, dia mempunyai uang yang cukup. Bukankah tidak sedikit orang yang gaya hidupnya mengumbar nafsu, namun duit tidak punya. Agar hasratnya tetap bisa tersalurkan, jadilah dia pengutang.

Meski demikian pengutang sekarang itu keren-keren. Dia tidak ber-maaf-maaf ke tetangganya minjem duit buat beli smartphone baru. Cukup datang ke counter smartphone, speak-speak, haha hihi, gesek kartu, selesai. Dia keluar counter dan jalan sepanjang Mall dengan tangan menenteng tas smartphone baru dan dada membusung. Ketika orang-orang melihat dia, waah..... padahal dia pengutang. :)

Ngatinah, dia berhutang karena memang dalam keadaan terdesak. Dia sekeluarga butuh makan, sedangkan uang untuk membeli makanan tidak ada. Dengan sangat terpaksa dia meminjam uang kepada tetangganya. Itu pun sekedar untuk memenuhi kebutuhan dapurnya saja.

Sedang kita, banyak diantara kita yang berhutang sekedar untuk membeli hal-hal yang bukan kebutuhan pokok dan mendesak. Ya ya ya pada sistem keuangan jaman moderen canggih milenium komputerisasi tat tit tat tit sekarang ini, berhutang bukan berarti kita miskin. Toh kita akan membayarnya nanti. Kita punya penghasilan yang tidak sedikit. Ya betul. Namun bukan kemampuan membayarnya yang jadi masalah, namun kebiasaan berhutang, ini yang patut kita waspadai.

Orang tua Siti Nurbaya, mereka harus merelakan anak perawannya dinikahi oleh kakek gaek Datuk Maringgih. Mereka tahu anaknya menderita, anaknya jadi korban, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ini dikarenakan mereka berhutang pada Datuk Maringgih.

Kalau kita berhutang, apakah yang siap kita korbankan?

Beberapa orang mungkin sukses menjadi orang kaya berkat berhutang. Dia sedemikian pintar mengelola utang-utangnya sehingga utang itu bukan saja bisa dilunasi tepat waktu namun juga mendatangkan keuntungan buat dia. Namun berapa banyak orang seperti ini?

Bukankah kebanyakan orang, justru hidupnya jadi bermasalah gara-gara berhutang? Dengan adanya kemudahan meminjam uang, mereka tidak bisa mengendalikan diri. Ada smartphone baru, gesek. Makan di restoran yang mak nyus, gesek. Beli baju merek luar negri, gesek. Karaoke, clubbing, panti pijat, gesek. Nikmatnya hidup ini :).

Kita tidak pernah merasa buka dompet, mengeluarkan uang Rp. 100 ribu berlembar-lembar, menerima kembalian Rp. 7,250,-. Kita tidak pernah melihat uang keluar dan masuk kantong kita. Yang kita tahu cuma gesek, gesek dan gesek. Kita sama sekali tidak menyadari bahwa kesenangan menggesek ini bisa berakibat buruk bila kita tidak bisa mengendalikan diri.

***
Brug...Brug..Brug!, "bro, buka pintu bro, buka pintu!". Malam itu seseorang menggedor-gedor kamar kost Jefri. "Siapa sih ... tunggu dulu!", Jefri yang saat itu sedang tidur, terpaksa membuka matanya dan berjalan terhuyung menuju pintu.
"Ini gue, Ryan, bukain pintunya cepetan" jawab suara dari luar.
"Gila lu ya, jam berapa ini." Jefri bersungut-sungut sambil membuka kunci pintu.
"haah... .thanks banget bro", Ryan segera masuk dan menutup pintu, nafasnya terengah-engah.
"Kenapa lo, ngos-ngosan kaya abis dikejar anjing begitu?"
"waduh gawat bro, gawat, tempat gue didatengin debt kolektor bro, banyak lagi. Untuk tadi gue nggak lagi di dalem, lagi kewarung indomie rebus. pas balik gue lihat mobil debt kolektor didepan kostan gue. gue langsung cabut aja kesini"
"oh ya?, emang lo nunggak tagihan kartu kredit ya?"
"bukan nunggak lagi bro, gue pernah ditelepon salah satu bank kartu kredit gue, katanya tagihan gue 53 juta. Gue mana punya duit sebanyak itu buat bayar. Itu baru satu kartu, yang lainya gue nggak tau tagihannya berapa."
"Emangnya elo nggak pernah periksa tagihan kartu kredit lo berapa?"
"Gue emang nggak pernah periksa bro, gue cuman bayar minimum payment doang tiap bulan. tapi itu rutin bro. Cuman emang tiga bulan terakhir gue nggak bayar. kemarin-kemarin kita kan nonton bola ama nonton konser itu bro. Jadi duit gue buat bayar kartu kredit kepake kesana. Sekarang gue dikejar-kejar debt kolektor. gimana nih bro?"
"De-El, derita lo itu mah. Udah gue mau nerusin tidur. Ganggu aja lo". kata Jefri sambil ngeloyor ke tempat tidurnya.
"yah elo, tega banget sih."
"bodo!, udah besok aja kita bicarain, gua ngantuk. Sekarang lo pulang aja sono."
"Mana bisa gua pulang sekarang, gue nginep sini deh."
"Ya udah lo gelar sendiri karpetnya."
"thanks bro, ntar gue mau keluar dulu, mau ngerokok dulu nenangin hati."
Ryan pun keluar dari kamar dan berdiri di beranda. Pikirannya kalut memikirkan utang kartu kredit yang puluhan juta, bahkan mungkin ratusan juta. Dihisapnya rokok dalam-dalam. Hatinya galau...