Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Jan 21, 2011

Tumbal Pesugihan

Tumbal Manusia
Tumbal Manusia

Malam itu langit gelap karena memang lagi gelap bulan, malam awal bulan Suro. Langit gelap semakin gelap karena tertutup oleh awan hitam yang bergayut, penuh dengan air. Dan tak perlu menunggu lama, diawali dengan sebuah kilatan halilitar yang disertai guntur bergemuruh, hujan pun turun.

Dalam situasi yang sangat tidak menyamankan tersebut, tampak satu sosok manusia berjalan di pematang sawah. Seiring kelebat cahaya kilat, sosok itu pun sekilas terlihat. Seorang laki-laki mengenakan caping dan memanggul cangkul. Rupanya Samijan, seorang buruh tani. Dia baru memeriksa sawah milik jurangan Karta orang terkaya di desa, dimana Samijan menjadi buruh taninya.

Pekerjaan petani memang terkadang tak ingat waktu. Disaat malam gelap dingin berhujan begini, kewajiban memelihara tanaman membuat petani harus menembus kegelapannya dan berkecipak dengan air, lumpur dan nyamuk. Tak heran, jaman sekarang ini tidak banyak orang yang mau jadi petani.

Ketika sampai di perbatasan antara sawah juragan Karta dengan sawah haji Sodik, sayup-sayup Samijan mendengar suara gemerincing, dan sepertinya suara itu mendekat. Samijan melihat dua titik terang menuju ke arahnya dari sebelah kanan. Dua titik cahaya itu semakin medekat disertai suara gemerincing dan derap kaki kuda. Rasa penasaran Samijan pun terjawab beberapa saat kemudian, ketika dihadapannya berhenti sebuah kereta kuda berpenumpang dua orang lelaki tinggi tegap. Penumpang kereta itu berpenampilan seperti punggawa kerajaan.

Kalau pada kondisi normal, Samijan harusnya mengalami dua keheranan. Pertama bagaimana mungkin di tengah sawah seperti itu bisa ada kereta kuda. Dan yang kedua, siapakah dua orang ini, dan mengapa berpenampilan seperti punggawa kerajaan, memang jaman sekarang masih ada kerajaan?

Namun entah kekuatan apa yang menguasainya, Samijan tidak bisa berpikir. Bahkan ketika salah satu dari punggawa kerajaan itu berkata padanya bahwa Samijan harus ikut mereka dan kemudian menarik tangannya dan menaikkannya ke kereta, Samijan hanya menurut saja. Hujan turun semakin deras.

Besoknya kampung Samijan gempar, karena Samijan ditemukan tergeletak di pematang sawah dan dalam keadaan sudah tidak bernafas lagi. Desas-desus mengatakan bahwa Samijan mati tidak wajar, dia telah menjadi tumbal. Desas-desus mengatakan lagi bahwa Juragan Karta telah menumbalkan Samijan kepada siluman tempat Juragan Karta meminta pesugihan....

(cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat maupun kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka dan tanpa ada unsur kesengajaan. Demikian juga dengan kisah-kisah dibawahnya )

***
Mistik dan klenik memang tidak bisa lepas dari perikehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari mbah Jambrong penguasa mata air di lereng gunung, khodam keris, batu cincin, rumah hantu, santet, pelet, ngepet. Dan juga tidak ketinggalan, Pesugihan.

Menurut desas-desus, pengertian pesugihan adalah suatu proses memperoleh kekayaan dengan memanfaatkan jasa makhluk ghaib. Mahluk ghaib ini, kalau kata desas-desus, bisa siluman (siluman babi, monyet, ular, dsb), atau bisa juga tuyul. Karena mereka mahluk ghaib, maka fee mereka tidak dibayar dengan dolar atau rupiah. Upah terhadap jasa mereka dibayar dengan bermacam-macam hal, tergantung kontrak yang ditandatangani. Bisa dengan sesajian tertentu semisal kepala kerbau dibalur darah ayam hitam plus rokok putih (Mild atau Marlboro Menthol). Atau bisa juga dengan (maaf) menetek atau menggauli istrinya. Bahkan ada juga yang meminta nyawa manusia sebagai fee.
Tak heran kalau ada kecelakaan yang merenggut nyawa manusia pada sebuah proyek pembangunan sesuatu atau kecelakaan suatu armada transportasi, atau kecelakaan lain yang ada korban tewasnya, desas-desus mengatakan bahwa yang mati itu adalah tumbal pesugihan dari orang kaya pemilik proyek atau pemilik armada transportasi.

Kebenaran ucapan si desas-desus memang sukar dibuktikan, selain hal itu melibatkan mahluk ghaib (menurut si desas-desus), buat apa juga kita susah-susah menengusutnya. Toh menurut sudut pandang kita, itu adalah kecelakaan. Dan yang namanya kecelakaan, kalau ada yang meninggal, yaa.. namanya juga kecelakaan. Paling yang perlu diusut itu apa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Dan kalau disitu ada unsur kelalaian, ya silahkan ditindak sesuai undang-undang. (halah.. kebanyakan terpapar radiasi Gayus nih, ngomongnya jadi serba undang-undang)

Namun demikian, sebenarnya Kekayaan dan Tumbal untuk kekayaan tidaklah selalu harus melibatkan mahluk ghaib.Di jaman sekarang ini, tidak sedikit Pesugihan yang nyata dan tidak memakai ghaib-ghaiban. Ngomong-ngomong, kalau ngomongin siluman monyet atau siluman anjing atau sejenisnya, suka jadi ingin bertanya, kalau siluman T-Rex sama Siluman Raptor ada nggak ya? hebat kan kalau ada, dia pasti jadi Raja Diraja dan Mahapatih para Siluman, ya nggak :).

Nah contoh tumbal yang bukan untuk siluman adalah dibakarnya kios-kios pasar tradisional, karena pada area itu akan dibangun pusat perbelanjaan modern. Atau penebangan kayu-kayu berharga di hutan Sumatra dan Kalimantan, kejadian-kejadian tersebut menimbulkan korban. Meski bukan korban jiwa tapi korban harta dan korban lingkungan. Tapi tunggu dulu, emang bener nggak ada korban jiwa?

Bagaimana dengan seekor gajah Sumatra yang mati dibunuh warga, karena gajah tersebut memakan tanaman para petani.Usut punya usut ternyata gajah tersebut turun gunung, karena hutan yang menjadi rumahnya kini telah gundul. Otomatis makanan gajah pun sulit ditemui di rumahnya sendiri, jadilah si gajah keluar dan memakan tanaman petani. Salah siapa coba?

Bagaimana dengan si Codet, yang tewas mengenaskan dalam kondisi hangus dibakar massa, gara-gara tertangkap ketika menjalankan aksinya mencopet di terminal. Usut-punya usut, si Codet yang nama aslinya Kartadi ini, dulu adalah seorang pedagang sayur-mayur di pasar tradisional. Namun ketika pasar itu dibakar, sumber matapencaharian Kartadi hilang. Sedang dia harus tetap menghidupi istri dan anak-anaknya. Kondisi sulit ini membuat Kartadi jadi pencopet, yang naasnya harus tewas dibakar massa. Salah siapa coba?

Tidakkah si Gajah dan si Codet bernasib sama seperti Samijan, jadi tumbal demi kekayaan yang diraup si Pembakar Pasar dan si Penggundul Hutan. Bedanya, kalau Samijan jadi korban keganasan Siluman, sedang si Gajah dan Si Codet jadi korban keganasan sebuah Sistem keserakahan.

***

Rumah kosong yang lapuk itu mendadak ramai dikerumuni warga. Meski demikian tidak seorangpun yang boleh masuk, karena disekeliling rumah telah pasangi pita "Garis Polisi". Rumah kosong ini sekarang menjadi sebuah TKP dari kasus kematian akibat over dosis. Adapun yang tewas adalah Baim, seorang pemuda anak orang kaya namun pemakai narkoba.

Ibrahim alias Baim merupakan anak pengusaha suami istri Sugiharto, taipan yang mempunyai kerajaan bisnis yang tidak kecil di negeri ini. Perusahaan yang dia miliki mencapai ratusan, dan bergerak di berbagai bidang.

Teman Baim ketika dimintai keterangan oleh Polisi mengatakan, bahwa Baim sudah sejak lama mengalami depresi. Ditengah gelimang harta dan berbagai fasilitas super mewah, Baim tidak merasa bahagia. Dan sebagai pelarian, dia pun mengkonsumsi narkoba.

Menurut seorang psikolog, Baim itu kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Kesibukan orang tua membuat waktu untuk bersama antara orang tua dan anak sangat sedikit sekali. Dan memang, menurut teman Baim, belum tentu seminggu sekali Baim bisa bertemu dengan orang tuanya.

Desas-desus mengatakan, Baim menjadi tumbal ... tapi bukan diberikan ke Siluman melainkan tumbal kesibukan orang tuanya. Masa iya, pak Sugiharto yang lulusan sekolah Amrik masih pake pesugihan Siluman Kepinding :)

***

Juragan Karta, si Pembakar Pasar, si Penggundul Hutan, dan Sugiharto. Mereka orang-orang kaya. Mereka banyak harta. Namun mereka mengorbankan jiwa-jiwa sebagai tumbal kekayaannya.
Pesugihan dengan Siluman mungkin sulit dituduhkan dan dibuktikan. Namun pesugihan moderen, banyak sekali pelakunya. Dan tumbal-tumbal pun banyak berjatuhan.

Kalau Pesugihan Siluman, tumbalnya setahun sekali satu orang di malam 1 suro (kata desas-desus). Tapi kalau Pesugihan modern tidak perlu menunggu setahun sekali, kapan saja bisa ada korban jiwa. Dan tidak cukup satu orang. Tumbal pesugihan moderen bisa satu keluarga, satu kampung, satu hutan, satu pasar. Kalau siluman Kepinding tidak meminta tumbal anak, pesugihan moderen tumbalnya tak kenal silsilah, bisa anak, ibu, ayah, saudara, rekan, dll.

Bagi kita orang Islam, maka pesugihan siluman itu jelas haram malahan termasuk syirik, karena meminta harta kepada selain Allah. Namun apakah kita benar-benar tidak melakukan pesugihan? Kalau jatuhnya korban merupakan salah satu faktor dari aktifitas pesugihan. Maka kekayaan kita pun jika memakan korban, akan termasuk kategori pesugihan. Meski rada keren, yakni pesugihan moderen, tidak memakai siluman Kepinding. :)

Apakah kita termasuk pelaku pesugihan modern?

(Sebenarnya saya mau menambahkan tentang para pejabat dan aparat negeri ini yang meraup kekayaan dari negara, tetapi menelantarkan rakyat. Rakyat jadi tumbal kekayaan mereka. Mereka juga pelaku pesugihan. Malah mereka itu memiliki jabatan rangkap, pelaku pesugihan sekaligus silumannya. Negeri kita kan terkenal dengan "Biaya Siluman"-nya. Mau ngurus apa-apa kalau mau lancar dan cepat harus bayar "biaya siluman" :). Tapi setelah dipikir lagi, karena tulisannya menyangkut pejabat dan aparat, mendingan cari aman deh. Jadi nggak jadi deh ditulisnya :P)