Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Feb 11, 2011

Waiting Tresno

Jomblo
Jomblo

"Witing tresno jalaran soko kulino", demikianlah bunyi sebuah pepatah bahasa Jawa yang bercerita tentang cinta. Kalau diterjemahkan secara bebas, pepatah tersebut artinya: Seiring berjalannya waktu dan seringnya bersama-sama, cinta pun tumbuh di dalam kalbu. Suatu pepatah indah yang menggambarkan sikap hati dua sejoli, yang akhirnya bisa merasakan cinta setelah sekian lama bersama-sama. Hati yang tadinya hambar biasa menjadi penuh cinta karena sering bersua.

Namun entah harus disayangkan atau diacungi jempol, ternyata ada saja orang iseng tapi kreatif yang membuat plesetan dari peribahasa tersebut. Plesetan yang sekilas mempunyai rima dan bunyi yang sama, namun maksud dan maknanya bisa membuat kita tersenyum. Plesetan tersebut adalah : "Waiting tresno sing ora teko-teko", artinya "menunggu cinta yang tidak datang-datang".

Meski plesetan, peribahasa baru tersebut memang cukup mengena.
Apalagi jika diterapkan dalam perikehidupan masyarakat sekarang, khususnya kaum muda-mudi. "Waiting tresno sing ora teko-teko" atau menunggu cinta yang tidak datang-datang, sepertinya cukup bisa menggambarkan kegundahan hati si Jomblo yang sudah sekian lama belum juga mendapat pasangan. Meski segala daya upaya telah dikerahkan namun belum juga mendapat hasil. Adapun penyebabnya bisa bermacam-macam. Mulai dari hal-hal yang kita maklumi seperti kondisi fisik, sampai hal-hal yang sulit kita terka dan cerna, seperti prinsip, pandangan hidup atau jalan pemikiran si Jomblo.

Namun betulkah mendapat pasangan itu (harus) sulit?

Bukankah hal ini secara teknis seharusnya mudah. Disebut "secara teknis mudah" karena, ya secara teknis, manusia butuh pasangan. Kegunaan dari pasangan itu untuk mempertahankan kelestarian spesiesnya. Begitu manusia dipasangkan, akan terbentuk manusia baru. Sehingga ketika manusia mati, maka manusia baru akan menggantikannya. Dengan demikian manusia tetap ada.

Untuk itu maka teknis yang perlu dilakukan adalah mendata berapa manusia jenis laki-laki dan berapa jenis perempuan, kemudian pasang-pasangkan (entah dengan cara saling memilih sendiri atau dipasangkan), biarkan proses regenerasinya berlangsung, ada hasil, ulang lagi prosesnya, dst.

Sederhana kan?

Ada yang nyeletuk,"hal itu hanya bisa terjadi kalau manusia itu seperti colokan listrik, tanpa asa tanpa nyawa. Kalau colokan listrik sih mudah, ada cowoknya ada ceweknya, colokin, lampu pun terang. Lha manusia kan bukan colokan listrik. Dia punya pemikiran, dia punya perasaan. Emang kita apaan."

Ya, ya, ya, tentu saja, manusia bukan benda, bahkan bukan juga hewan, yang dengan mudah dikawinkan. Manusia punya asa, punya angan dan pemikiran. Yang kesemuanya dilibatkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam proses pemilihan pasangan pun, manusia menggunakan asa, angan dan pikirannya. Namun disadari atau tidak, dari sinilah awal mula terciptanya para jomblo. Asa, angan, dan pikiran terkadang mempersulit proses pemilihan pasangan.

Perasaan dan pemikiran sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Ujar-ujar bahasa Inggris yang berbunyi: You are what you eat, you are what you read, you are what you listen to, you are what you bla..bla..bla... kesemuanya maksudnya kurang lebih sama, yakni kita sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan kita. Apa yang kita baca, rasa, lihat, dengar maupun alami, akan membentuk suatu pola pemikiran dalam diri kita. Dari pola pemikiran ini lahirlah standar, sebagai panduan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam memilih pasangan, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, tentulah akan berpedoman pada standar tertentu yang dia yakini. Orang yang menjadi pasangan saya harus begini, jodoh saya harus yang begitu, dia tidak boleh begini begitu, dll. Namun lagi-lagi, terkadang standar ini menjadikan seseorang sulit mendapatkan pasangan.

Lantas apakah standar ini salah?

Salah nggak sih? kayaknya nggak lah ya. Hanya saja gimana kalau kita merubah pertanyaannya menjadi seperti ini: "Apakah standar yang kita gunakan ini cocok? sesuaikah untuk kita?"

Nah dari pertanyaan ini, mudah-mudahan kita bisa merunut kebelakang dan menemukan akar masalah kenapa kita belum juga mendapat pasangan.

"Mungkin Allah belum mempertemukan kita dengan pasangan, belum waktunya barangkali.", Pendapat lain bersuara. Fren, kalau menunggu waktunya tiba, sampai kapan? Rejeki itu Allah yang mengatur, betul, tapi apakah dengan berdiam diri kita akan mendapat rejeki? Sepertinya tidak. Jodoh itu sudah ditentukan Allah, ya, tapi apakah dengan menunggu waktu, kita akan bertemu jodoh? Well... Mei... mei bi yes mei bi no :)

Jadi, yang pasti-pasti aja deh.

Lantas apakah di dunia ini ada standar universal yang cocok buat siapa saja?

Inilah untungnya kalau alam semesta itu ada yang mencipta. Sang Pencipta yang pastinya Maha Sempurna, menciptakan semesta termasuk manusia, tentu lengkap dengan dokumentasi dan manualnya. Sehingga kalau ada masalah, kita tinggal merujuk pada dokumentasi dan manual yang telah disediakan. Pada manual pengoperasian manusia, ada bagian yang menerangkan tentang standar yang digunakan ketika manusia memilih pasangan. Standar tersebut dasarnya adalah tujuan manusia hidup, yakni beribadah pada Sang Pencipta. Kita gunakan itu sebagai standar, bahwa pasangan kita haruslah bisa menjadi teman dalam perjalanan kita menjalani kehidupan dan melaksanakan kewajiban sebagai hamba Sang Maha Kuasa. (cie..keren banget, yang ar-ti-nya :) )

Dengan dasar standar 'kita menikah untuk ibadah' ini, barulah kita meningkat ke komponen-komponen standar yang lain, seperti rupa, harta, keturunan, dll. Namun komponen-komponen tersebut sifatnya hanyalah pelengkap (optional), boleh ada boleh juga tidak.

Hanya saja untuk menjadikan komponen-komponen tersebut optional, inilah yang sulit. Kebanyakan kita menetapkan nilai mutlak untuk komponen ini. Jodoh saya harus cantik, harus ganteng, harus kaya, harus Kangjeng Raden Mas/Raden Ayu, harus pejabat, harus pengusaha, dsb. Kalau mau begitu ya silahkan saja, tidak ada yang melarang, hanya ya harus siap dengan segala resikonya. :)

"Namun apalah artinya pernikahan tanpa cinta.", curhat yang lain. Pola pikir kita sekarang ini telah terbentuk, bahwa pernikahan itu merupakan peresmian dari rasa cinta antara pria dan wanita. Pola pikir ini terbentuk dalam benak kita, berkat kerjasama apik media-media, mulai dari lagu cinta, cerita cinta, film cinta, talkshow cinta, pertunjukan cinta (live show orang pacaran di mall, tempat rekreasi, atau bahkan di semak-semak he..he..he..), dll. Untuk bisa menikah, haruslah terlebih dahulu ada cinta yang dirasakan antara pria dan wanita. Malah kalau perlu, cinta itu dipertemukan setelah melalui perjuangan berat, semisal sang pria menaklukan naga penyembur api, atau sang wanita dengan tekun selama lima tahun merawat pria yang dicintanya yang sedang koma. Indaah....

Yang lain pun kemudian terinspirasi dan ingin merasakan dan menjalani keindahan yang sama. Jadilah itu standar, bahwa pasangan saya haruslah diculik dulu oleh naga penyembur api atau pasangan saya harus koma dulu selama lima tahun. Eh, salah ya :) ya seperti itulah pokoknya, yang romantis-romantisan gitu.

Jadilah kita terjebak dengan standar kisah romantis, yang menurut pendapat kita akan lasting forever and ever, romantis sampai mati. Everlasting Romantic, adakah? Untuk menjawabnya, coba kita bertanya pada mereka-mereka yang telah menikah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, gimana pendapat mereka dan apa yang mereka rasakan tentang romantis setelah sekian lama menikah. Honestly.

"Gue belum mikirin kawin, meski gue jomblo, gue happy-happy aja tuh", kata jomblo bahagia. Really? really? (nyebut rili yang pertama nadanya datar, rili berikutnya nadanya menurun dengan pandangan menyelidik ke jomblo bahagia tadi :) ). Untuk bisa menjalani hidupnya secara normal, manusia harus memenuhi berbagai kebutuhan. Ada kebutuhan fisik seperti makan, minum, bernafas, buang air, dsb. Ada juga kebutuhan psikis seperti rasa aman, perhatian, teman curhat, sahabat, sosialisasi, dsb. Ada juga kebutuhan yang mencakup wilayah fisik dan psikis, inilah kebutuhan akan pasangan.

Kalau seseorang, ketika dia sudah cukup umur, mengaku belum memerlukan pasangan, sepertinya kita perlu menggali lebih jauh. Apakah dia mempunyai trauma dimasa lalu, yang membuat dia takut mencari pasangan, atau jangan-jangan dia ada kelainan ^_^ . Kalaupun dia benar-benar normal dan bahagia, maka dia harus mewaspadai hal-hal yang mungkin terjadi padanya dimasa datang. Kan kalau orang suka telat makan, maka dia akan terkena penyakit Maag. Kalau dia telat nikah, hemm... kira-kira dia akan terkena apa ya?

"Masalahnya enggak ada pria/wanita yang mau sama gue". Hal ini bisa terjadi karena masing-masing menggunakan standar yang berbeda. Yang pria merasa dirinya Arjuna yang hanya pantas menikah dengan Supraba, dewi dari Swargaloka. Sedang yang wanita mengangankan dirinya Cinderella dan akan menikah dengan Pangeran Gagah pewaris tahta. Baik pria maupun wanita, ibaratnya mereka ingin bertemu, namun mereka memandang ke arah yang bertolak belakang dalam posisi saling berpunggungan. Mereka tidak akan pernah saling melihat satu sama lain apalagi bertemu.

Jika kita perhatikan, dalam suatu kumpulan, entah itu di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, komunitas, dsb, Jomblo laki-laki banyak, Jomblo perempuan juga banyak, kenapa mereka nggak nikah aja ya? iya kan. Dari pada susah-susah nyari kesana-kemari, PDKT nggak jadi-jadi. Inilah akibatnya kalau standar pemilihan pasangan yang digunakan tidak sama. Disinilah manfaatnya kesamaan standar yang digunakan. Ketika masing-masing pihak, baik pria maupun wanita meninjau ulang kembali standar yang mereka gunakan dalam memilih pasangan, kemudian mereka beralih ke standar Sang Pencipta, maka akan terjadi kesamaan pandangan. Gayung pun pasti bersambut. Will you marry me? :)


Lupakan angan kita menjadi Cinderela yang hanya akan menikah dengan Pangeran Gagah Putra Mahkota. Lupakan asa kita bahwa kita Arjuna yang hanya akan menikah dengan Supraba, dewi dari Swargaloka. Lupakan segala standar yang kita pegang, yang ternyata justru membuat kita jomblo. Beralihlah ke standar Sang Pencipta. Sadarilah bahwa kita hanyalah Hamba Sang Maha Kuasa, yang diberi nafas hidup hanya untuk taat dan berbakti kepada-Nya. Bukankah menikah adalah salah satu titah-Nya. Demi ketaatan kita pada-Nya, bersegeralah...

Bagaimana dengan Cinta?

Witing tresno jalaran soko kulino...


***
Ada yang nyeletuk, "Ngomong sih gampang ..." ^_^