Featured Post

Legenda Olah Raga Indonesia

Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia d...

Nov 26, 2013

Orang Kantoran naik gunung–part 1

Awalnya yang daftar ada 17 orang. Namun yang jadi berangkat 9 orang. Yang 8 orang berguguran karena berbagai penyebab, ada yang counseling mau nikah, ada yang ngedadak dapet kunjungan orang tua ada juga yang cedera waktu olahraga.

Memang, acara Mendaki Gunung Gede ini sudah digaungkan sejak 3 bulan lalu. Dan para calon peserta sudah jauh-jauh hari dihimbau untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya. Ini perlu karena mendaki gunung bukan  jenis olah raga ringan. Mendaki gunung membutuhkan fisik yang tangguh dan mental baja.

Pada hari Sabtu, 9 November 2013 jam 7 pagi berkumpullah 9 orang yang siap menguji fisik sampai batas-batas kemampuan. Semua tampak semangat meski mereka tahu resiko yang akan dihadapi. Medan hutan, tanjakan, hujan guntur, hawa dingin, gelap malam, pokoknya yang serem-serem deh.

Sengaja semua peserta “ditakut-takuti” oleh segala ancaman hujan guntur di gelap malam, supaya mereka mempersiapkan mental dari awal. Mengingat sekarang ini musim hujan. Keadaan medan bisa kurang bersahabat.

Dengan menumpang mobil kantor, berangkatlah rombongan menuju Cibodas, Cianjur, gerbang pendakian. Perjalanan memakan waktu hampir 4 jam karena jalur Ciawi-Puncak dikenakan sistem buka tutup.
Rombongan yang terbagi dua mobil ini mengambil jalur terpisah. Satu mobil tetap melewati jalur utama, sedang mobil yang lain mengambil jalur alternatif melalui Tapos. Ternyata mobil pertama sampai lebih dulu, karena mobil yang melalui jalur alternatif tidak bisa berjalan cepat karena jalan yang dilewati cukup sempit dan banyak tikungan. Sehingga begitu berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan, harus berhenti dan bergantian.

Jam 12 rombongan kedua tiba di Cibodas. Setelah bergabung dengan rombongan pertama, kami pun istirahat, sholat, makan sambil menyusun kembali perlengkapan. Sementara sang koordinator (ehm… itu saya ^_^) mengurusi SIMAKSI alias surat ijin pendakian.  Silahkan lihat proses pengurusan SIMAKSI disini.

Proses pengurusan SIMAKSI agak terhambat ketika “bapak” yang menandatanganinya sedang istirahat. Sang Bapak baru masuk jam 2 kurang seperempat. Untung sudah sedia sabar segede gunung ^_^.
Setelah dapat simaksi, saya buru-buru mengejar teman-teman yang sudah lebih dulu nunggu di pos pemeriksaan. Saya segera menyusul mereka setelah koordinasi dengan 2 teman yang baru datang dan sedang makan siang.

Sampai di pos pemeriksaan rombongan sudah gelisah tidak sabar untuk melakukan perjalanan. Proses di pos pemeriksaan tidak lama, hanya menyerahkan SIMAKSI dan petugas memberi penjelasan singkat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama melakukan pendakian.

Rombongan yang kini berjumlah 12 orang ini pun melakukan langkah pertama mereka menapaki jalur pendakian. Namun saya tetap tinggal untuk menunggu 2 anggota terakhir yang tadi sedang makan siang. Sekitar 15 menit kemudian, 2 orang itu muncul. Setelah melaksanakan sholat terlebih dahulu, kami pun berangkat menyusul rombongan induk.

Kami berhasil menyusul rombongan induk di daerah Rawa Gayonggong. Kami mendapati mereka sedang foto-foto ceria. Biasa awal perjalanan semuanya masih semangat. Tunggu sampai lewat kandang badak nanti, wajah ceria itu pasti berganti jadi wajah hampir putus asa ^_^.  Perjalanan kami lanjutkan, dan di pertigaan air terjun Cibeureum, rombongan istirahat dulu.

Setelah istirahat dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan menapaki jalur tanah berbatu selebar 2 meter. Dan sesuai namanya mendaki gunung, jalur yang kami lalui itu mendaki dan terus mendaki.
Hari sudah gelap ketika kami melewati daerah Cipanas. Disini ada satu ruas jalur yang berupa jalur sempit berbatu-batu. Disamping kiri jalur ini berupa tebing dengan air terjun kecil, dan yang istimewa adalah air yang jatuh disini adalah air panas. Sementara itu disisi kanan jalur berupa jurang sedalam mungkin 30-40 meter. Namun tenang saja, di bibir jurang itu sudah dipasangi tali-tali pengaman. Tapi meski demikian, ketika kita melewati jalur air panas ini, sebaiknya kita ekstra hati-hati, karena jalannya adalah batu-batu yang terendam air.  Kita harus pintar memilih pijakan, kalau kita ceroboh, bisa-bisa terpeleset dan bye-bye….
Menapaki jalur air panas di gelap malam memang tegang-tegang seru. Alhamdulillah semua anggota bisa melewati jalur air panas dengan selamat.

Sekitar jam 8-an rombongan sampai di Kandang Batu, sebuah area cukup datar dan banyak lahan terbuka untuk mendirikan tenda. Namun ternyata malam itu lahan-lahan kosong tersebut hampir penuh oleh tenda-tenda jenis tenda doom. Kami sempat berunding, apakah akan melanjutkan perjalanan ke Kandang Badak atau mendirikan tenda di Kandang Batu saja. Akhirnya semua sepakat kita nge-camp di Kandang Batu saja.
Beberapa orang berkeliling mencari lahan-lahan yang masih kosong untuk mendirikan tenda. Untungnya di tempat agak kedepan, ada lahan agak luas dan cukup untuk mendirikan lima tenda.

Kami pun mulai bekerja bakti mendirikan tenda-tenda. Setelah tenda berdiri, maka acara berikutnya adalah memasak. Memasak di tempat camping itu punya keseruan tersendiri. Meski yang dimasak hanya air dan menggoreng sosis. Beda dengan memasak di dapur di dalam rumah, kompor yang dipergunakan adalah kompor khusus camping yang berbahan bakar spirtus. Beberapa anggota memang membawa kompor camping, yang terdiri dari satu set peralatan berisi kompor, ceret kecil, beberapa panci dan peralatan-peralatan pendukung lainnya. Untuk bahan bakar spirtusnya dapat dengan mudah dibeli di toko-toko bangunan.

Kami memang tidak memasak nasi, karena nasi sudah dipersiapkan sebelumnya oleh seksi konsumsi rombongan. Sebelum berangkat sang seksi konsumsi memasak nasi di rumahnya dan mengemasnya dalam bentuk bungkusan-bungkusan kecil yang praktis dibawa.

Setelah dirasa cukup makan dan bercanda, masing-masing istirahat dan tidur. Mengecas kembali energi untuk melanjutkan perjalanan berikutnya….

Orang kantoran naik gunung - part2

Orang kantoran naik gunung - part3