Featured Post

Legenda Olah Raga Indonesia

Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia d...

Jan 2, 2014

Enslave with Freedom


Enslave with Freedom

Satu frasa yang muncul di benak saya pertama kali di tanggal 1 Januari adalah: Enslave with Freedom. Saya gak tahu secara grammar bener atau gak tuh frasa, tapi kalau di Indonesiakan kurang lebih begini: Memperbudak dengan Kebebasan.

Frasa itu muncul setelah menyimak hingar-bingar pesta tahun baru dan miliaran orang yang hanyut dalam gelombang derasnya. Well, raya merayakan memang sudah jadi bagian dalam kehidupan manusia, di peradaban manapun. Mulai manusia Gua sampai manusia Gadget, tak bisa lepas dari yang namanya perayaan.

Lantas dari mana datangnya pemikiran Enslave with Freedom ini? Yaa..hasil semedi dibawah pohon cabe ^_^ Dimanapun di belahan planet ini sekarang sedang mengagungkan yang namanya Freedom alias kebebasan.

Freedom menjadi kata sakti yang akan digunakan untuk membenarkan segala sesuatu yang dilakukan manusia. Dan kalau ada yang berani mempertanyakan: "Mengapa kamu melakukan ini?", maka si penanya akan langsung diserang jutaan kalimat senada bernama "Melanggar Kebebasan".

Namun pernahkah kita mencoba me....me..... me apa ya, "merenungi" terlalu berat kayaknya, ya me-apapunituistilah-nya kalau kita benar-benar punya Kebebasan, mengapa kita harus selalu sama dengan apa yang tengah berlaku/nge-tren di dunia ini?

Kalau kita punya kebebasan, mengapa kita harus sama dalam hal mode pakaian. Tahun ini modenya begini, kita harus nurut dan memakai mode yang sama. Meskipun si Trendsetter akan menggunakan kata "bebaskan dirimu", namun dia memaksa kita mengikuti perintahnya menggunakan mode yang dia tentukan.

Kalau kita punya kebebasan, mengapa harus sama dalam hal gaul. Ukuran gaul itu A B C D, kita harus nurut dan melakukan A B C D supaya termasuk gaul. Dan si Gaulsetter akan menggunakan kata "bebaskan dirimu", namun dia memaksa kita mengikuti perintahnya melakukan apa-apa yang dia tentukan.

Kalau kita punya kebabasan, mengapa kita mau didikte oleh berbagai "aturan tren dan ukuran ke-keren-an".

Kalau kita masih nurut sama Tren, bukankah sama-saja kita diperbudak, meski dengan embel-embel bebas melakukan apapun.

Enslave with Freedom....