Featured Post

Legenda Olah Raga Indonesia

Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia d...

Jan 3, 2014

Tidung si pulau Tidur



Pulau Tidung

Saya baru tahu bahwa nama Tidung ini berasal dari kata “Tidur” ^_^. Menurut pak Unin, kalau di pulau Tidung ini bawaannya mau tidur melulu, karena suasanyanya yang enak. Pak Unin adalah pemilik rumah homestay yang saya tinggali selama semalam. Homestay ini terletak di bagian tengah pulau Tidung, dekat lapangan bola. Biaya menginapnya relatif murah. 350rb itu untuk 1 rumah homestay dengan 2 kamar, 3 tempat tidur, 1 kamar mandi, lengkap dengan rice cooker dan kompor gas. Cocok sekali bagi liburan sekeluarga.

Kami sekeluarga dan beberapa saudara pergi rekreasi ke pulau Tidung tanggal 24-25 Desember 2013. Sengaja memilih hari biasa supaya tidak terlalu penuh dan harga-harga lebih murah ^_^. Untuk orang yang tinggal di Jakarta, nama Pulau Tidung mungkin sudah tidak asing. Meski mungkin belum sempat mengunjunginnya, tapi setidaknya pernah mendengar namanya. Tidung adalah salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu.

Pulau Tidung ini ada dua, Tidung Besar dan Tidung Kecil. Tapi kalau dilihat dari google earth atau googlemap, pulau itu sebenarnya 1 pulau, tapi karena bagian yang lebih rendahnya terendam, jadilah itu terlihat seolah ada 2 pulau. Antara 2 pulau ini dibangun jembatan. Awalnya jembatan ini hanya terbuat dari kayu saja. Namun ketika saya kesana, jembatan sepanjang 300 meter ini telah dibangun dengan konstruksi beton dan pagar pengaman dikedua sisinya.


Di ujung jembatan di sisi P. Tidung Besar ada bagian jembatan yang melengkung lebih tinggi dari jembatan lainnya. Konstruksi melengkung ini adalah semacam “gerbang” untuk lalu lalang perahu boat dari bagian utara dan selatan jembatan. Titik tertinggi lengkungan jembatan ini sekitar 4-5 meter dari permukaan air. Nah, lengkungan jembatan ini menjadi daya tarik tersendiri, karena sering digunakan oleh para wisatawan untuk menguji nyali melakukan lompatan dari atas jembatan ke air. Saya pun tak kelewat mencobanya.Seru…Tengang tapi bikin ketagihan ^_^


Untuk mencapai pulau tidung kita bisa menggunakan kapal motor yang berangkat dari pelabuhan Muara Angke atau Pelabuhan Marina Ancol. Tapi biasanya orang-orang memilih naik dari Muara Angke karena tiketnya lebih murah. Tiket kapal motor kayu harganya Rp. 35.000,-/orang. Seperti halnya naik Bisa Mayasari atau naik metromini, kita langsung naik kapal, nanti bayar tiketnya diatas kapal.

Nah yang cukup repot adalah jadwal berangkatnya. Kapal motor dari Muara Angke ke Pulau tidung hanya ada jam 7 pagi saja setiap harinya, selain itu tidak ada lagi. Makanya kalau kita mau naik dari Angke, kita harus memperhitungkan keberangkatan kita dari rumah, sehingga bagaimana caranya sebelum jam 7 pagi, kita sudah berada diatas kapal. Diatas kapal lho bukan baru sampai Mega Mall Pluit atau pasar ikan muara angke. Karena kapalnya sangat tepat waktu.

Waktu tempuh dari Angke ke Tidung sekitar 2,5 jam. Di perjalanan kita akan melewati beberapa gugusan pulau kecil, seperti pulau bidadari, pulau Pari (dari kejauhan), dll (gak tau namanya soalnya ^_^). Selama perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan lautan luas, terkadang ada burung belibis dan camar yang terbang melintas. Kalau beruntung kita bisa melihat ikan terbang bahkan lumba-lumba.


Sesampainya di dermaga pulau Tidung kita akan disambut oleh hiruk-pikuk orang yang menawarkan jasa penginapan, ojek sepeda dan Bentor. Saya sendiri baru pertama kali mendengar kata Bentor. Bentor itu singkatan dari Becak Motor, sesuai namanya alat transportasi ini berupa motor bebek yang bagian setang depannya diganti dengan alat angkut mirip becak. Kapasitasnya tiga orang. Dua didepan dan satu dibonceng di belakang seperti umumnya motor.

Bentor - rayenisme.blogspot.com
Pulau Tidung ini termasuk pulau yang berpenduduk cukup padat. Secara administratif, pulau Tidung ini adalah sebuah kelurahan, yang termasuk di kecamatan Kep. Seribu Selatan, Kab. Administratif Kep. Seribu. Rumah-rumah penduduk disana sebagian besar sudah direnovasi menjadi homestay untuk mengakomodasi para wisatawan.

Begitu turun dari kapal, saya langsung menelpon Pak Unin. No hpnya saya dapat dari saudara, dan saudara saya itu dapat dari temannya yang pernah ke sana dan menginap di tempat pak Unin. Setelah bertemu, saya diantar ke Homestay yang letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari Dermaga. Namun karena belum tahu, kita ditawari oleh para pemilik Bentor untuk menggunakan bentor saja. Tarifnya 15rb/bentor. Jadilah kita berdelapan plus 2 anak pun menggunakan Bentor. Tidak ada jalan mobil disana, karena lebar pulau hanya beberapa ratus meter saja. Adapun jalan-jalan disana terbuat dari paving blok selebar 2 meter, hanya bisa dilewati sepeda/motor dari dua arah. Setelah melewati beberapa belokan, kami pun sampai di lapangan sepak bola disisi laut. Di sisi timur lapangan tersebut, terletak homestay kami.

Homestay pak Unin
Kami berangkat dari rumah jam 5:15 pagi. Dengan mencarter angkot dari Cijantung ke Angke, kami bisa sampai jam 6:30. Amaan…Jam 7 kapal berangkat, jam 10 kapal bersandar di dermaga Pulau Tidung. Kami sampai di homestay sekitar jam 10:15. Sebelum melanjutkan aktifitas menikmati pulau Tidung, kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang dulu. Baru setelah shalat Dzuhur, kita akan menuju jembatan Cinta.

Disamping menyewakan homestay, pak Unin juga menyediakan Sepeda dan peralatan snorkling. Untuk sewa sepeda, tarifnya 20rb/sepeda selama kita berada disana sampai kita pulang. Adapun satu set peralatan snorkling yang terdiri dari Snorkel Mask, life jacket dan kaki katak tarifnya 30rb. Sambil menemani istirahat kami, pak Unin bercerita banyak tentang kehidupan di pulau Tidung ini, tentang asal-usulnya, tentang para penduduknya, sampai cerita tentang anaknya yang sedang bekerja di Jakarta.

Pulau Tidung tidaklah besar, saya rasa dalam dua hari kita akan bisa menjelajahi semua tempat di pulau itu. Karenanya, para penduduknya banyak yang merantau ke darat untuk mencari penghidupan. Adapun yang tetap tinggal dipulau, mata pencahariannya kalau tidak nelayan ya bekerja di industri wisata.
Enaknya liburan bersama keluarga adalah, untuk urusan makanan kita bisa mengatur sendiri ^_^ Kami membawa semua kebutuhan makanan, mulai dari beras, lauk yang sudah matang, sampai cabe untuk membuat sambal. Di penginapan ada kompor gas dan rice cooker. Jadilah kita seolah pindah rumah, meski hanya semalam saja.

Setelah makan dan shalat, semua berangkat menuju sisi timur pulau, jembatan Cinta.

Dengan menaiki sepeda, hanya dibutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai lokasi. Sepeda memang alat transportasi populer disana. Meski ada juga sepeda motor, namun kendaraan resmi wisatawan disana adalah sepeda. Sepeda-sepeda ini diberi tanda di bagian keranjang dan spakbor ban belakang. Tandanya berupa inisial dan nama pemilik sepeda-sepeda tersebut. Sepeda disimpan di semacam tempat parkir. Tarifnya 2rb sekali parkir, dibayar ketika akan keluar/pulang.

Jembatan Cinta ternyata juga dilengkapi dengan berbagai permainan wisata air seperti banana boat, donut boat, sofa boat, dsb. Saya sempat menjajal salah satunya, lumayan seru juga. Namun yang paling seru bagi saya ya itu, loncat dari Jembatan Cinta dan snorkling di terumbu karang yang dangkal.

Waktu satu hari sebenarnya kurang kalau kita ingin menjelajahi setiap sisi P. Tidung besar dan Tidung Kecil. Soalnya snorkling saja bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Trus kalau kita suka “hutan”, di ujung barat Tidung Besar dan di pulau Tidung kecil, masih ada area yang masih dipenuhi rimbun pepohonan. Area itu cukup luas, kita bisa mengeksplorasi dan berpetualang di “hutan” tersebut.

Nah bagi yang suka Camping, maka pulau Tidung Kecil adalah tempat yang tepat. Karena disana masih “hutan”, tidak ada rumah penduduk. Kita bisa mendirikan tenda di pasir putih agak ke dalam, supaya kalau air laut pasang tenda kita tidak kebanjiran. Paling perlu dipertimbangkan juga sarana sanitasi seperti BAB dan Buang air kecil. Meski sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir, karena di P. Tidung Besar, banyak juga tersedia WC umum.

Selain itu kalau kita mau Camping di P. Tidung, kita harus memperhitungkan supplai air bersih untuk keperluan minum dan memasak.

Acara sore itu hanya sampai Snorkling. Sekitar waktu Ashar kami pulang ke homestay dengan sepeda. Sesampainya dirumah, semua bersih-bersih, berbilas dengan air tawar. Setelah itu dilanjutkan makan. Malam pun menjelang. Rencananya kita mau jalan-jalan, apa daya semua pada kecapean. Akhirnya satu-persatu jatuh tertidur. Tinggal saya sama istri yang masih terjaga. Kami pun jalan-jalan keliling kampung dengan sepeda. Kembali ke jembatan Cinta, dan menikmati suasananya di keremangan malam. Romantis juga ^_^ Kami juga menyempatkan diri mampir di toko suvenir.


Jam 9:30-an kami kembali ke homestay, semua sudah tergolek pulas. Kami pun bergabung dengan mereka.
Pagi menjelang, semua berkemas. Pak Unin memberitahu bahwa kapal akan berangkat dari Tidung ke Muara Angke jam 10 pagi. Karenanya jam 9 sebaiknya kita sudah berada di dermaga. Rencananya kita mau menyempatkan diri mengunjungi pantai Perawan yang ada di ujung barat pulau Tidung Besar. Namun apa daya, waktu gak mencukupi. Akhirnya jam 8:30 kita bertolak ke dermaga.

Dermaga Pulau Tidung
Suasana di dermaga masih lengang. Namun pada jam 10 pagi, datanglah 3 kapal penuh muatan dari Angke. Rupanya mereka adalah para wisatawan yang akan berlibur. Kita sendiri akan pulang kembali ke Angke. Ketika kapal ke-3 dari Angke datang, kapal yang kami tumpangi bertolak dari P. Tidung menuju pelabuhan Muara Angke. Perjalanan memakan waktu 2,5 jam. Jam 12:30 kami menapakkan kembali kaki kami di tanah Jawa.

Kapal penuh muatan yang baru merapat di Dermaga Pulau Tidung 


@aa_irpan