Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Apr 2, 2014

Petaka Bharata Yudha


Perang Bharata Yudha



Alkisah pada jaman dahulu tersebutlah seorang raja bernama Citrawiria yang bertahta di kerajaan Astinapura. Beliau berputra dua, Destarata dan Pandu. Sang Prabu Citrawiria meninggal di usia muda. Maka tahta pun diteruskan oleh anaknya. Karena Destarata, sang kakak, buta matanya sejak lahir, maka tahta pun diteruskan oleh Pandu.

Pandu memiliki anak 5 orang yakni Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, mereka ini dikenal dengan sebutan Pandawa. Sedang Destarata mempunyai anak 100 orang, anak sulungnya bernama Duryodana dan paling bungsu bernama Dursala. Mereka ini dikenal dengan sebutan Kurawa.

Dari sinilah pertikaian antar saudara dimulai. Duryodana merasa tahta negri Astina adalah haknya, karena dia adalah anak dari putera mahkota Destarata. Sedang Yudhistira merasa naiknya Pandu, ayahnya, menjadi Raja adalah melalui jalur yang sah, bukan hasil tipu muslihat. Puncak perbedaan pendapat tersebut adalah sebuah perang dahsyat selama 18 hari di lapangan Kurusetra. Perang tersebut dikenal dengan nama “Bharata Yudha”.

Kita semua mengetahui bahwa para Pandawa itu orangnya baik-baik dan para Kurawa itu orangnya jahat-jahat. Ok, mungkin mereka memang begitu. Namun pernahkah kita sejenak memikirkan para prajurit kedua belah pihak, yang bertempur di garis depan dan mati paling dulu? Apakah prajurit blabla dari pihak Kurawa itu jahat? Apakah prajurit blibli dari pihak Pandawa itu baik? Siapa yang tahu?

Bagaimana kalau baik blabla maupun blibli hanyalah orang yang “mencari sesuap nasi”, mendapat gaji dengan menjadi prajurit?


Tanggal 9 April 2014 nanti, Indonesia akan menyelenggarakan “Bharata Yudha” di lapangan PEMILU. Saya tidak akan menunjuk siapa Pandawa siapa Kurawa, karena kayaknya semuanya mengaku orang baik-baik ^_^.  Masing-masing Pangeran dan Putri mengklaim paling baik dan akan memperjuangkan rakyat. Di arena PEMILU, mereka mengerahkan pasukannya masing-masing. Para pasukan inilah yang bertempur di garis depan.

Cerita-cerita seperti Tetangga tidak akur dengan Tetangganya karena beda partai. Satu orang dikucilkan dari pergaulan karena memilih lambang yang berbeda dll, dsb. Malah ada saja orang yang benar-benar bertengkar sampai berkelahi membela partainya masing-masing. Cerita-cerita semacam ini akan kembali terulang. Cerita-cerita “Para prajurit yang mati di garis depan.” Mereka jadi korban, tapi namanya takkan pernah tercatat dalam sejarah. Mereka hanyalah “ongkos” dari bertahtanya seorang Pangeran atau Putri.

PEMILU hanyalah tambahan petaka bagi para keroco rakyat jelata. Hasil PEMILU tak pernah membuat kehidupan Rakyat bertambah makmur bermartabat. Karena para Pangeran dan Putri hanya memikirkan diri sendiri.

Karenanya, Jangan GOLPUT, let’s make things worse. ^_^


PS:
Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya

In memoriam Dalang  Asep Sunandar Sunarya. Beliau telah wafat pada hari Senin, 31 Maret 2014. Berkat jasa-jasa beliau, kesenian tradisional Indonesia khususnya Wayang Golek, bisa dikenal oleh dunia Internasional. Padepokan Wayangnya, “Giri Harja 3” sudah melanglang buana memperkenalkan keluhuran budaya Indonesia. Semoga semua amal ibadahnya diterima Allah SWT dan segala dosanya di ampuni. Amiiin...