Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

May 23, 2014

Balada Matematika

Generasi UN. sumber: masgregori.us


Beberapa waktu lalu jagat maya dan media Indonesia diramaikan oleh berita tentang seorang siswi sekolah tingkat SMA yang menantang menteri Pendidikan untuk mengerjakan soal UN Matematika. Dan dengan jawaban diplomatis, pak Mentri tidak menerima tantangan tersebut.

Peradaban manusia memang bisa dikatakan dibangun dengan matematika. Rumah, pakaian, kebun, jalan sampai peralatan perang dari jaman Manjaniq sampai Rail Gun dibangun dengan matematika alias hitung-menghitung. Elemen pembangun ini jadi ilmu yang wajib dikuasai atau setidaknya diketahui oleh setiap manusia di jaman sekarang.

Di Indonesia, ilmu Matematika jadi pelajaran wajib di setiap lembaga yang menamakan dirinya sekolah. Dan untuk mengukur sampai dimana ilmu ini dikuasai oleh generasi penerus, diadakanlah ujian-ujian. Hasil ujian berupa nilai dengan angka tertentu menjadi patokan seberapa besar keberhasilan sekolah “menginstall” ilmu matematika di setiap anak. Setidaknya begitulah persepsi para penyelenggara pendidikan sekarang ini.

Namun nilai tinggal nilai, yang lebih penting daripada nilai adalah apakah si anak bisa memahami dan menerapkan ilmu-ilmu matematikanya itu di kehidupan nyata.  Karena ilmu, apapun ilmunya adalah alat yang digunakan manusia untuk menjalani hidupnya. Sama seperti pisau dapur yang digunakan ibu untuk memotong sayuran, sama dengan cangkul yang digunakan ayah untuk mencangkul sawah. Ilmu seharusnya bisa digunakan dalam kehidupan.

Kembali ke soal UN, soal-soal UN Matematika sedemikian sulit, sehingga tidak satu pelajar pun di Negeri ini yang bisa menjawab seluruh soal dengan benar. Bahkan Nurmillaty Abadiah, sang penantang Menteri Pendidikan itu, peraih medali perak dalam International Competition and Assessments for Schools 2012 yang diadakan Educational Assessment Australia (EAA), hanya mampu mengerjakan 33 soal dari 40 soal yang diujikan. Setelah diusut, ternyata banyak soal-soal UN itu yang mencontoh soal PISA (The Programme for International Student Assessment) kalau tidak dibilang menjiplak.

Ada opini tentang penggunaan soal PISA di UN ini, yaitu supaya standar nilai PISA Indonesia bisa naik. Mengingat rangking PISA Indonesia jeblok. Namun sepertinya para pengurus negeri ini tidak mau susah dan ingin mengambil jalan pintas, dengan memberikan soal PISA di UN tanpa memberikan perisapan yang sebagaimana mestinya.

Ilmu matematika memang universal. Di manapun di planet ini, 1+1=2. Namun bagaimana cara mengajarkan ilmu itu dan sejauh mana daya pemahaman para pelajar, tiap daerah tentu berbeda-beda. Terlebih di Indonesia, dimana para pelajarnya harus menghadapi banyak sekali “pengalih perhatian” sehingga mereka tidak bisa fokus belajar. Pengalih perhatian ini bisa berwujud segala jenis hiburan, eksploitasi psikologis, dll. Akibatnya para pelajar ini terbuai dengan dunia yang…. memang itu masanya mereka, namun seharusnya mereka sadar bahwa ada yang lebih penting dari itu. Yang dimaksud adalah, misalnya begini: anak-anak usia SMP – SMA, secara biologis dan psikologis sedang memasuki masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Mereka mengalami pubertas. Puber identik dengan pacaran. Dan pacaran adalah aktifitas yang menguras semua energi dan perhatian mereka. Akibatnya tidak ada lagi energy yang tersisa untuk belajar. Sedangkan tuntutan sekolah dengan segala standar nilainya tidak bisa dihindari. Akibatnya para pelajar ini mengambil jalan pintas, yakni menyontek saat ujian.

Mereka melupakan satu hal, yakni mereka belajar untuk memperoleh “alat pendukung hidup” yakni ilmu. Ibu tidak bisa memotong sayur tanpa pisau dan ayah tidak bisa mencangkul sawah tanpa cangkul. Apa jadinya mereka tanpa ilmu?

Hal ini diperparah dengan para penyelenggara pendidikan yang sepertinya kehilangan pemahaman tentang apa gunanya ilmu. Mereka menyelenggarakan pendidikan tidak dilandasi dengan niat untuk membuat anak-anak berilmu, mereka menyelenggarakan pendidikan karena dari sanalah mata pencaharian mereka. Sehingga orientasi mereka bukanlah bagaimana membuat system pendidikan yang baik, namun bagaimana mereka mendapatkan harta dari system pendidikan yang diselenggarakanya. Jadilah pendidikan di Indonesia seperti sekarang ini, siswanya tidak fokus belajar, para penyelenggara pendidikan pun tidak peduli dengan kondisi para siswa tersebut.

Meski demikian ada sedikit “penghibur hati”. Bahwa kondisi siswa yang tidak paham Matematika, bukanlah masalah Indonesia sendiri. Di Negara lain pun mengalami hal yang sama, bahkan di Negara Adidaya seperti Amerika. Menurut berita di http://www.bbc.com/news/business-27442541, di beberapa Negara Bagian di Amerika, tingkat pemahaman para pelajar terhadap Matematika tidak lebih baik dari negara-negara lain di dunia. Di Negara Bagian Mississippi, Alabama dan Louisiana, pemahaman para pelajarnya setara dengan pelajar di Kazakstan dan Thailand. Bahkan di West Virginia, nilai matematikanya jauh dibawah negara-negara Eropa Barat, bahkan dibawah Korea Selatan dan Singapura.  

Karenanya, kita bisa sedikit tersenyum dan mengelak, bahwa pelajar tidak bisa Matematika bukan hanya terjadi di Indonesia saja, di Amerika juga sama.

Namun demikian, kondisi ini patut menjadi keprihatinan kita semua. Jika kualitas para pelajar kian hari kian menurun, akan bagaimanakah kondisi bangsa ini dikemudian hari? Jika ibu tidak punya pisau untuk memotong sayur, bagaimana bisa dia memasak. Jika ayah tidak punya cangkul, bagaimana ayah bisa mencangkul sawah dan kemudian menanam padi. Jika generasi penerus kita tidak punya ilmu, kehidupan seperti apakah yang akan mereka jalani kelak?


***