Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Jul 14, 2014

Jumawa di Papandayan

Salah satu trek tanjakan di Papandayan

Temen-temen sekalian,
Foto diatas familiar banget kan? Saya begitu ketemu jalan seperti ini girangnya bukan main. Seneeeeng banget, sampe pengen loncat-loncat rasanya. Itu adalah jalan di jalur menuju “Pondok Saladah” camping ground di gunung Papandayan. Namun tracknya pendek, gak sampe 10 menit sudah habis ^_^.

Beberapa waktu yang lalu, secara tidak terencana saya ke Papandayan. Berawal dari telpon adik saya yang memberitahu bahwa bapak saya sakit. Saya pun pulang ke Garut. Alhamdulillah sakit bapak tidak parah dan sudah mulai membaik. 

Saya sampai ke rumah bapak hari Sabtu sore. Keesokan harinya saya berada di halaman belakang rumah sambil memperhatikan gunung Cikuray, dari dulu saya ingin mendaki ke puncak Cikuray, namun sampai sekarang belum kesampaian. Gak sempet melulu ^_^. 

Halaman belakang rumah bapak, Gunung Cikuray tampak jelas dari sini
Selagi asyik memperhatikan dan menerka kira-kira medan Cikuray seperti apa, tiba-tiba ada telpon masuk, rupanya dari kakak yang tinggal di Bandung. Dia mengatakan bahwa dia butuh Belerang. Mendengar kata Belerang, maka hal pertama yang terlintas dibenak adalah Kawah Papandayan.

Jadilah hari Minggu jam 11 siang saya ke Papandayan, naik motor Mio punyanya keponakan. Sendirian ^_^. Gak bawa apa-apa, cuma pake jaket parasit untuk naik motor, dompet & HP. Perjalanan dari rumah bapak saya ke Kawah Papandayan kurang lebih 50 menit. Kita mengikuti jalan utama, jalan Garut-Cikajang. Di alun-alun kecamatan Cisurupan, kita memasuki jalan ke kawah. Pada mulanya jalan bagus, namun setelah melewati desa terakhir, dan pemandangan berubah menjadi perkebunan sayur disambung hutan pinus, jalanan mulai rusak dibeberapa tempat. Di jalan menjelang pos, ada plang seperti foto dibawah:

Plang menjelang Kawasan Wisata Kawah Papandayan
Di belakangnya adalah kawah Papandayan, kawahnya luas, lebih luas dari kawah Gunung Gede.

Di pos terpampang baligo tariff masuk. Tarifnya relatif murah, Rp. 7500,- /orang. Namun buat Wisatawan Mancanegara, tarifnya 20x lipat. Saya sebenarnya tidak setuju bedanya sejauh itu. Jomplang banget. Huh!

Tarif masuk
Baligo itu ada di sisi kanan jalan, dan disisi kiri jalan, terletak loket pembayaran karcis. Saya pun membayar disana, Rp. 15rb (7500 orang + 7500 motor). Masuk ke tempat parkir, disitu banyak mobil pickup. Belakangan saya tahu bahwa mobil pickup itu adalah sarana transportasi utama, yang mengangkut pengunjung dari alun-alun kecamatan Cisurupan dibawah tadi, sampai ke kawah Papandayan ini. Ongkosnya 20rb/orang. Naik ojek juga bisa, ongkosnya 25rb
.

Setelah memarkirkan motor, saya melihat sekeliling, ada jalan yang mengarah ke kawah, dari jalan itu berdatangan orang-orang menggendong Carrier. Percaya atau tidak, saya senang banget melihat orang-orang menggendong carrier. Serasa ketemu temen lama ^_^. Setelah memastikan motor dan helm dikunci, saya memasuki jalan menuju ke kawah.

Di tengah kawah saya sempat mengambil beberapa foto pake HP:


Suasana di dalam Kawah Papandayan
Kondisi tanah di kawah cukup padat, sehingga bisa dilewati motor, meski berbatu-batu. Di tengah perjalanan saya berpapasan dengan sekelompok orang gendong carrier, mereka meminta bantuan saya untuk mengambil foto mereka. Setelah selesai foto-foto, saya bertanya track ini berakhir dimana? Kata mereka, berakhir di Camping Ground Pondok Saladah. Saya nanya lagi, masih jauh gak? “lumayan, kira-kira 1,5 – 2 jam lah” jawab mereka. Karena yang menjawab itu orang bawa carrier dan dalam rombongannya ada beberapa orang perempuan, maka 2 jam berarti dekat ^_^.

Sejenak saya lupa tujuan utama saya kesini yaitu untuk mencari belerang. Saya teruskan mengikuti track sampai ke ujung seberang kawah. Fotonya ini:

Ujung seberang Kawah Papandayan
Dari tempat saya mengambil foto, jalur pendakian ada disisi kiri, turun ke lembah, lalu naik, menyusuri jalan, dan melewati celah yang terlihat difoto. Dibalik celah itu ada pos dan tukang warung. Keberadaan warung di jalur pendakian memang membantu namun sekaligus bikin ill feel ^_^. Karena mengurangi suasana "menjelajahi hutan".

Jalur pendakian setelah menyeberangi Kawah Papandayan
Foto diatas adalah jalur yang akan dilewati sebelum turun ke lembah. Ketika akan menuruni lembah, saya bertemu dengan sekelompok penduduk yang sedang berjibaku dengan motor yang dimuati pipa paralon. 

Penduduk membawa pipa paralon untuk kebutuhan pengairan kebun Kentang

Ketika saya tanya untuk apa pipa-pipa tersebut, mereka menjawab pipa itu untuk mengalirkan air dari gunung ke perkebunan kentang. Rupanya di balik gunung itu ada perkebunan kentang.

Setelah turunan tadi, kita akan sampai di lembah. Di lembah terdapat sungai/selokan sempit, namun airnya cukup deras.

Sungai kecil di Lembah
Setelah melewati selokan ini, mulailah track nanjak seperti yang di foto awal tadi. Sayang tracknya pendek. Setelah tanjakan habis, kita akan bertemu dengan jalan cukup lebar. Dari jalan besar ini, jika kita melihat kembali ke belakang pemandangannya seperti ini:

Pemandangan setelah tanjakan
Di sisi kanan foto kita lihat gunung yang seolah terbelah. Kondisi itu terjadi sepertinya akibat letusan terakhir gunung Papandayan yang terjadi tahun 2002 silam. Letusan yang terjadi tahun 2002 itu juga banyak merubah wajah kawah Papandayan. Tadinya kawah itu ada beberapa ceruk, namun setelah letusan berubah menjadi satu wilayah kawah yang luas.

Dari jalan lebar, kita lalu masuk ke celah. Dan dibalik celah kondisinya seperti ini:

Pos lapor sebelum camping di Pondok Saladah
Celah darimana kita masuk, berada di sebelah kanan foto. Terlihat sekelompok orang pake motor trail. Karena memang tracknya seru juga jika pake motor trail. Adapun tenda yang sedang dirubung orang-orang di belakang, itu adalah pos pemeriksaan. Jadi sebelum & sesudah berkemah harus lapor di pos itu.

Jika dari tempat saya mengambil foto ini, saya balik kanan, maka yang terlihat adalah jalan menuju Pondok Saladah:

Jalur menuju Pondok Saladah
Di tempat ini ada warung, disini saya menyempatkan minum air jeruk. Sambil tanya-tanya apakah pondok Saladah masih jauh. Kata si ibu warung, deket, gak sampe setengah kilo. Ya udah sekalian aja kesana ^_^ tadinya saya pikir kalau masih jauh saya balik lagi aja, karena tujuan awal saya kan cuma mau cari belerang ^_^. Tapi karena sudah dekat, sayang banget kalau dilewatkan. Di warung itu saya juga bertanya apakah ada yang menjual belerang? Kata si ibu coba di pos bawah, cari warung pak Dedi, dia biasanya ada. Ok deh. Next stop Pondok Saladah.

Jalur ke Pondok Saladah datar-datar saja. Kira-kira seperti ini:

Fangorn Forest versi Papandayan ^_^
Saya jadi inget film Lord of The Ring, di hutan Fangorn, dimana pohonnya bisa jalan dan bisa ngomong ^_^
Gak sampe lima menit dari warung tadi, sampailah ke Pondoh Saladah Camping Ground:

Pondok Saladah / Seladah Camping Ground
Tempatnya bagus, malahan ada MCK-nya. Jadi lebih sehat dan nyaman ^_^

MCK di Pondok Saladah Camping Ground, Papandayan
Saya pun sempet narsis di bawah plang Pondok Saladah

Narsis di plang Pondok Seladah, Papandayan
Sebelumnya saya tidak tahu track pendakian Gunung Papandayan itu seperti apa. Dan karena rombongan yang ketemu di kawah tadi bilang bahwa track ini berakir di Pondok Saladah, maka saya kira, saya sudah sampai di tujuan akhir. Padahal sebenarnya bukan, dan ini saya ketahui lama setelahnya. Tujuan akhirnya tetep puncak gunung Papandayan. Pondok Saladah hanya semacam “Kandang Badak”-nya saja.

Di Pondok Saladah ini, saya mikir: “That’s it? Cuman segini doang?” Ini mah bukan hiking namanya. Piknik ^_^. Kalau cuman buat seneng-seneng, ke Papandayan ok lah, tapi kalau buat Hiking serius untuk menempa mental dan fisik, it’s nothing. Well… ok let’s call it an appetizer…. no…  a snack.

***

Temen-temen sekalian,

Kalimat saya yang terakhir adalah tanda bahwa si Irpan itu orang yang sombong. Dan kejadian yang saya alami ketika saya turun kembali dari Pondok Saladah ke parkiran, membuat saya merenung dan menyadari bahwa saya telah bersikap sombong.

Setelah puas “meremehkan” Papandayan, saya pun turun lagi. Saya menapaki jalur dengan setengah berlari, bagaimanapun saya mesti hati-hati, karena saya gak pake sepatu atau sandal gunung, saya ke Papandayan pake sendal ke Mall. Di beberapa tempat sempet juga mengambil foto, malah saya memfoto sandal Mall saya ^_^

Sandal Mall di gunung ^_^
Di pertengahan jalan saya bertemu dengan rombongan motor trail tadi. Mereka sedang bergiliran melewati track yang sempit dan cukup berbahaya, di sisi kiri tebing sedang di sisi kanan jurang. Melihat motor saya jadi inget motor mio punya keponakan, dan ingat motor saya jad ingat kunci. Oh iya kunci! Reflex saya merogoh kantong celana sebelah kanan yang saya inget tadi nyimpen kunci motor disana. Ternyata saku itu kosong. Saya teruskan mencari di semua kantong celana dan jaket, gak ada juga.

Waduh, panjang nih urusan, pikir saya. Sebersit harapan muncul, mudah-mudahan aja kunci itu tertinggal menggantung di motor. Namun saya inget banget, kunci sudah saya kantongi. Berarti kunci jatuh, karena di saku itu saya juga menyimpan HP, dan HP dari tadi keluar masuk untuk mengambil foto. Rupanya saking excitednya dengan suasana, saya tidak ngeh bahwa kunci jatuh.

Disitu saya mempertimbangkan beberapa scenario. Saya naik lagi ke Pondok Saladah untuk mencari kunci, atau tetep turun sambil mencari kunci. Akhirnya saya memutuskan untuk ke atas lagi. Kali ini waktu tempuhnya jadi agak lama karena sambil jalan saya memperhatikan sekitar kalau-kalau kuncinya tergeletak disana. Ketika berpapasan dengan rombongan lain pun saya menyampaikan pesan, kalau-kalau di jalan mereka menemukan kunci motor, tolong titipkan di pos. Mereka pun dengan senang hati menyanggupi. I love Hiker’s Brotherhood ^_^.

Sampai pondok Saladah gak ketemu juga itu kunci. Ketika itu cuaca lebih terang, saya pun mengambil lagi foto, kali ini pemandangannya lebih kelihatan.

Suasana Pondok Seladah ketika cuaca terang
Di foto terlihat celah membelah hutan, saya memperkirakan itu adalah jalur pendakian menuju “Tegal Alun”, Padang Edelweiss yang ada dibalik gunung. Sepertinya, dibalik gunung itu kita ke kiri membelah padang Edelweis menuju puncak gunung Papandayan.
Hutan Mati di kejauhan
Pada foto diatas kita lihat ada bagian hutan yang tanahnya putih. Sepertinya itu hutan mati yang dimaksud orang-orang.

Kembali ke cerita kunci hilang, setelah memastikan kunci tidak ada saya pun turun sambil memikirkan scenario berikutnya, jika di jalan kunci tidak ditemukan, dan di pos pun tidak ada, berarti saya sewa  ojek pulang ke rumah keponakan untuk mengambil kunci cadangan, dan balik lagi ke Papandayan -_-‘. Itulah “Worst Case Scenario”-nya. Maka saya pun memantapkan langkah, turun lagi setengah berlari karena hari makin sore.

Di perjalanan cuaca cukup cerah. Namun begitu memasuki daerah kawah lagi, kabut tebal turun disertai hujan cukup deras dan angin.  Saya segera memburu pohon Cantigi terdekat dan berteduh dibawahnya. Apes deh, mana gak bawa perlengkapan apapun. Boro-boro jas hujan, topi aja nggak. Jaket parasit yang saya bawa gak ada tutup kepalanya. Awalnya sih aman, tapi lama-lama air menetes dari sela daun. Mau gak mau jadi basah juga. Hemm.. diem basah jalan juga basah, mending jalan sekalian, pikir saya. Akhirnya saya pun meneruskan perjalanan ditengah hujan dan kabut tebal. Saya memasuki kawah sendirian, dibelakang agak jauh ada serombongan hiker, tapi gak tahu mereka masuk juga gak ke kawah.

Seru juga jalan di tengah kawah, diselimuti kabut tebal dan diguyur hujan. Serasa berjalan di planet antah-berantah sambil mandi air kulkas ^_^ Di tengah jalan, hujan reda, namun suasana masih berkabut. Saya pun menyempatkan mengambil foto suasana sekitar:


Kabut pekat di tengah Kawah Papandayan
Selagi menikmati suasana ngeri-ngeri sedap begitu, saya jadi teringat cerpennya teman saya Ian yang bercerita tentang seorang pendaki gunung Gede bernama Wita yang ketika pulang “isinya bukan Wita” lagi. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini.  Ingat cerpen tersebut saya jadi berkhayal: “Jangan-jangan gue yang sedang berjalan ini sebenarnya cuma rohnya doang, sedang jasadnya tergeletak entah dimana, mati kedinginan”. Mikir begitu, mau gak mau saya merinding juga ^_^ ngebayangin jadi arwah tersesat yang gentayangan di kawah berkabut sampai dunia kiamat. Segera saya menepis khayalan tersebut, kemudian mengucap mantra favorit saya: So be it!  Yang terjadi terjadilah.

Saya pun meneruskan perjalanan. Agak sulit juga menemukan track yang jadi “jalan utama” karena jarak pandang yang sangat pendek akibat tertutup kabut. Selain itu dibeberapa tempat, tanah berubah jadi sungai kecil. Tak jarang saya mundur kebelakang karena tercegat aliran air cukup deras. Saya mesti mundur dan mencari tempat yang banyak batunya supaya bisa dilompati.

Satu-satunya panduan yang bisa saya gunakan adalah batu-batu bertulis. Para pendaki maupun pengunjung suka iseng menulis nama mereka atau grup mereka di batu-batu dengan menggunakan spidol, tip ex atau Pilox. Sepanjang saya masih menemukan batu bertulis, berarti saya berada di jalan yang benar. ^_^

Alhamdulillah, tak berapa lama saya mendengar riuh suara orang diselingi suara mesin, berarti tempat parkir gak jauh lagi. Dan benar didepan sudah tempat parkir, namun sama saja, tempat parkir pun ditutup kabut yang tebal. Orang-orang riuh teriak-teriak senang. “Woi lo dimana?” “gue disini” “kagak keliatan” “ya iya lah, ketutup kabut, lu lagi” ^_^ 

Kalau rame-rame gitu sih diselimuti kabut tebal begini malah seneng, coba kayak pengalaman saya barusan, sendirian berada di planet antah-berantah sambil mandi air kulkas. Ngeri-ngeri sedap.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menuju ke tempat parkir, dan benar saja, kunci motor tidak ada. Saya coba ngomong ke tukang parkir yang jaga motor, barang kali dia nemu kunci ngegantung. Dia bilang tidak. Waduh… masa harus jalankan “Worst Case Scenario” sih, males banget pikir saya. Saya coba ke loket tempat bayar tiket tadi, dan menanyakan ke sana. Disana pun gak ada.

Untunglah saya tidak harus nyewa ojek balik ke rumah untuk ngambil kunci cadangan. Ketika balik ke tempat parkir, si penjaga parkir bilang bahwa temennya tadi ketitipan kunci motor yang ditemukan Hikers di jalur. Alhamdulillah….. lega banget rasanya. Berkali-kali saya mengucapkan terima kasih ke mereka.

Setelah kunci ditemukan, saya jadi inget tujuan utama saya datang kesini yakni cari belerang. Saya pun mencari warung pak Dedi, setelah ketemu saya memesan Indomie rebus pake telor dan memakannya di depan tungku. Karena badan dan baju saya basah kuyup.

"Siduru" di depan tungku
Selesai makan, saya membeli belerang ke dia kemudian pulang.

Di perjalanan pulang saya merenung, jika saja gak ada insiden kunci jatuh, sebelum turun kabut saya harusnya sudah berada di parkiran bahkan mungkin sudah pulang. Namun rupanya saya harus menikmati mandi air kulkas dulu di tengah kawah. Semua kejadian yang serba kebetulan itu memberikan pelajaran pada saya: JANGAN SOMBONG!