Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Jan 6, 2015

Pendakian Cikuray dan Papandayan, 24-27 Dec 2014




Bumi ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan dari anak cucu kita.
Mari kita lestarikan…

 ===

Sabtu, 27 Dec 2014
Setelah lumayan lama terlelap, saya terjaga. Masih di Cipularang mengarah ke Jakarta. Saya menengok ke sebelah kanan, di jok 3 kursi, bertumpuk 3 orang yang sedang tidur. Anak-anak ini…. Separah apapun kondisinya, mereka tetap bisa menikmatinya. Bahkan di kursi bis yang sempit pun, mereka bisa tidur bertumpuk seperti itu ^_^


Saya coba perhatikan tanda-tanda kilometer yang dilewati, disana tertera angka “97”. Sementara itu di layar LCD yang terdapat di bagian depan bis sedang menayangkan Video Karaoke “Mega Hits Mansyur S.”, dan lagu yang sedang tampil adalah lagu berjudul “Zubaidah”.

Saya memejamkan mata. Memutar kembali pengalaman yang telah lalu…..

***
Rabu, 24 Dec 2014 21:00

Kami berempat (Saya, Reza, Yogi dan Wildan) berangkat dari rumah malam hari, jam 8-an kurang. Dari Kalisari naik angkot sekali, disambung busway, turun di halte BKN. Tujuan kami adalah pool Bis Primajasa yang terletak tepat di Halte BKN itu. Suasana di Pool Bis mengingatkan saya  pada suasana saat-saat mau mudik lebaran. Di pool banyak sekali calon penumpang. Untungnya manajemen pool bis menerapkan system antrian. Setiap calon penumpang yang baru datang diharuskan mengambil nomor antrian
. Nanti begitu ada bis kosong, penumpang akan dipanggil berdasarkan nomor antriannya. Sehingga meski penumpang berjubel, tapi suasana tetap tenang dan tertib.


Karena calon penumpang sangat banyak, kami baru kebagian bis jam setengah dua belas malam ^_^ Tapi nggak apa-apa lah, yang penting bisa duduk nyaman. Tas-tas Carrier disimpan di bagasi. Diatas hanya bawa jaket dan tas kecil saja berisi dompet dan hp. Perjalanan menuju Garut memakan waktu hampir 6 jam. Ini karena terjadi kemacetan di jalan tol Cikampek.

Kamis, 25 Dec 2014

Sekitar jam setengah enam pagi kami tiba di Terminal Guntur, Garut. Begitu turun dari bis kami langsung menuju ke Masjid Al-Mubarok yang terletak di seberang pintu keluar terminal. Masjid ini menjadi base camp tidak resmi dari para pendaki yang akan naik ke Cikuray atau Papandayan. Di depan masjid sudah tersedia Angkot dan mobil Pickup yang akan mengantar mereka ke Pintu Pemancar untuk pendakian Cikuray, dan ke Cisurupan untuk yang akan ke Papandayan.


Biasanya begitu turun dari Bis, kita akan disambut orang yang bertanya, “Mau kemana kang?, Cikuray atau Papandayan?” Kemudian dia akan mengarahkan kita. Kalau ke Cikuray, kita bisa menggunakan mobil pickup atau angkot berwarna biru muda. Sedang kalau ke Papandayan, kita menggunakan angkot berwarna biru tua.

Perjalanan menuju pintu Pemancar lumayan panjang dan dramatis. Jalannya mengingatkan saya ke jalan menuju Gunung Putri, G. Gede. Namun ini lebih parah. Beberapa kali Angkot harus didorong karena bannya terjebak lumpur.  Btw, ongkos dari Terminal sampai ke Pemancar ditarif Rp. 45rb/orang. Awalnya saya kaget, apa?! 45rb?! mahal amat! Tapi setelah tahu jalan yang harus dilalui seperti apa, saya jadi bisa nerima juga ^_^


Setelah berjibaku di jalan sempit berbatu dan berlumpur, sampailah kami ke pos pendaftaran. Disini kita didata dan diharuskan membayar tiket masuk Rp. 10rb/orang.


Saya pikir dari pos pendaftaran ke Pemancar itu sudah dekat. Apalagi pada foto dibawah ini, Kompleks Pemancar sudah terlihat sangat dekat. Namun ternyata dugaan tersebut tidak benar saudara-saudara.


Dari pos pendaftaran ke Pemancar ternyata masih jauh dan melalui jalan menanjak, berbatu dan berlumpur. Dua dari tiga angkot yang jalan beriringan itu sampai mengalami pecah ban. Untunglah mereka membawa ban cadangan. Akhirnya kami pun harus turun dan menunggu ban diganti. Untunglah nggak lama.


Menjelang pos Pemancar, pemandangannya sungguh menakjubkan. Saya sempatkan mengambil salah satunya, yakni foto dibawah ini.


Itulah dataran Garut sebelah Timur.

Ketika sampai pos pemancar, saya berpikir tempatnya seramai Cibodas. Ternyata enggak. Disana hanya ada 3 atau 4 warung, sederet toilet dan musholla. Waktu di terminal tadi, kami belum sempat sarapan. Karena ingin buru-buru ke Pemancar, kami mengambil angkot yang segera berangkat saat itu, dan nggak sarapan dulu, dengan harapan di Pos Pemancar ada warung nasi. Ternyata enggak ada sodara. Jadilah kami harus puas sarapan dengan Indomie Telor. -_-‘


Disini kami menyusun ulang barang-barang bawaan. Disini pula kita harus mengisi perbekalan terutama Air. Karena disepanjang perjalanan sampai puncak dan sampai turun lagi, kita tidak akan menemukan sumber air.

Ok, perjalanan dimulai. Kami berangkat jam 10 pagi. Di titik start permulaan mendaki, kami berfoto dulu ^_^


Dari kiri ke kanan: Irpan, Wildan, Reza & Yogi

Jalur yang dilalui mula-mula berupa kebun teh. Kemudian bersambung kebun sayuran. Kemudian barulah jalur hutan.

Track hutan yang dilalui mengingatkan saya waktu naik GunungSalak, bulan Agustus lalu. Jalannya sempit namun masih alami. Malah di Jalur Cikuray ini tidak ada patok penanda jarak. Dan karena ini musim hujan, jalan yang dilalui jadi licin. Kita harus ekstra hati-hati dalam melangkah, karena kalau sampai terpeleset dan jatuh apalagi sampai kaki keseleo, repot urusannya. 


Dari para pendaki yang berpapasan ketika mereka turun kami dapat informasi bahwa di atas ramai sekali. Selain itu hujan selalu turun ketika hari menjelang sore. Dan hujan akan berlangsung sampai malam hari. Wah, mesti siap-siap nih.


Sepanjang perjalanan saya selalu berada paling belakang. Kali ini bukan karena menemani orang yang paling belakang, tapi karena emang ketinggalan. Saya keteteran mengimbangi laju ketiga anak ABG itu. “Admit it, you are ooooold, buddy” kata saya pada diri sendiri ^_^ Malah karena di jalur banyak terdapat tanjakan yang harus dipanjat, beberapa kali otot kaki saya terasa kaku, untung nggak sampai kram. Untuk memulihkan kondisi, mau tidak mau saya harus berhenti, melepas Carrier, dan menggerak-gerakkan kaki saya selama 15 menitan. Setelah pulih, baru melanjutkan perjalanan lagi.

Dari pintu Pemancar sampai puncak harus melalui 7 pos. Dan ketika sampai pos 6, hujan turun. Saat itu saya sendirian, 3 Anak itu sudah di depan entah di mana. Waktu menunjukkan jam 3 sore. Wah malam masih jauh, ya udah lanjut aja, pikir saya. Setelah mengenakan jas hujan, saya pun melanjutkan perjalanan. Saya mendapati anak-anak itu satu jam kemudian. Saat itu mereka tengah mendirikan tenda dalam siraman gerimis kecil.  Ketika saya tanya, mengapa gak nge-camp dipuncak aja?, mereka menjawab, kata orang-orang ini sudah di kawasan puncak. Ke puncak paling 10 menit lagi. Kita dirikan tenda disini, takutnya di puncak sudah penuh, katanya. Emang betul juga sih. Saya pun kemudian membantu mereka.

Sayup-sayup terdengar celoteh dan tawa orang di arah atas. Berarti benar, puncak sudah dekat.

Acara pertama setelah tenda berdiri adalah memasak air dan nasi. Untuk perlengkapan masak, kami membawa kompor gas “Laptop”, wajan, panci nesting, 4 botol air ukuran 1,5 liter, dan 1 botol air ukuran 5 liter.
Saya kebagian menggendong bahan makanan dan botol air ukuran 5 liter itu. Lumayan juga sih ^_^  sementara anak-anak itu ada yang bawa tenda, ada yang bawa perlatan masak, dan yang lain membawa air dan keperluan kelompok lainnya.

Suasana “dapur” bisa dilihat di foto di bawah.


Itu ada panci nesting, wajan yang dipakai menanak nasi liwet. Perhatikan spatulanya ^_^ itu spatula hasil kreasi Reza, dibuat dari kayu pipih dan ranting, diikat pake tali raffia. Kemudian ada botol berukuran 5 liter dan disebelahnya botol-botol 1,5 literan.


 Setelah nasi matang, siap disantap. Lauknya?  Mie instan mentah yang diremukkan dan dicampur dengan bumbunya. Makannya pun gak dipisah, langsung dihajar di wajannya oleh empat orang. Wellcome to the jungle…^_^
Ketika makan,  saya ingat para Chef Colliers Adventurers. Andai ada disini …

Selama di Cikuray dan Papandayan, itulah menu yang kami santap.  Adapun diperjalanan naik dan turun, perut kami diganjal dengan madu, coklat dan biskuit.

Jum’at, 26 Dec 2014

Ketika saya terjaga, tampak langit mulai terang-terang tanah.  Terdengar beberapa orang lewat dengan nafas terengah-engah. Wah mereka pada mau  mengejar Sun Rise nih. Tapi kami tidak mencari itu. Nyantai aja. Setelah semua bangun, kami menyempatkan membuat minuman hangat dulu. Setelah itu baru berkemas dan bongkar tenda.

Ketika langit sudah terang, kami menuju ke puncak Cikuray dengan membawa serta semua perlengkapan. Benar saja, tak sampai 10 menit kami tiba di Puncak. Disana ada pelataran tak seberapa luas. Semuanya terisi tenda. Namun banyaknya tenda bisa dihitung dengan jari.

Kami bersyukur karena pagi itu Matahari berkenan menampakkan diri. Awan-awan pun mendekati kami, berkumpul dibawah. Di puncak terdapat satu bangunan bekas BTS. Untuk mendapatkan foto yang lepas tanpa halangan, kami naik ke atap bangunan tersebut.


Foto diatas adalah bangunan bekas BTS. Kami naik ke atapnya dengan berpegangan pada tali. Tali tersebut ada di sisi Timur bangunan. Kalau dari foto ini, tali itu ada di sebelah kiri. Atap bangunan tidak terlalu luas, taksiran saya paling hanya 3x3 meter. Makanya untuk berfoto diatas, harus gantian.


Foto di atas adalah pemandangan sisi Timur Cikuray, tampak lautan awan yang mengambang dengan awan kelabu mengandung hujan di sisi kanan foto.


Foto diatas adalah suasana puncak dengan latar belakang Papandayan. Ini adalah pemandangan sisi Barat Laut. Puncak Papandayan di pojok kiri foto tampak diselimuti kabut.




Setelah puas foto-foto kami mencari tempat agak luas dibawah. Acara berikutnya adalah memasak nasi untuk sarapan sebelum turun. Sambil menunggu nasi matang dan mumpung ada matahari, kami menjemur pakaian dan perlengkapan lainnya yang kemarin sempat basah kena hujan. Sekitar jam 9:30-an kami mulai perjalanan turun gunung melalui jalur Bayongbong.

Jalur pendakian di Cikuray itu ada 3:
  • Jalur Cilawu (Pemancar),
  • Jalur Bayongbong (Pintu Pamalayan dan Pintu Sengklek)
  • Jalur Cigedug (Kp. Olan atau Areng)

 Jika disketsa, posisi-posisi dari tempat-tempat di Cikuray – Papandayan itu demikian:


Dalam perjalanan turun, jalur hutannya kami selesaikan dalam waktu 1,5 jam saja. Betul kata orang-orang, jalur Bayongbong itu jalur terpendek untuk mencapai puncak. Namun “harganya mahal” ^_^ jalur ini lebih parah daripada jalur Pemancar. Kalau di jalur Pemancar masih ada “ampun”, kita bisa menemukan tanjakan landai lumayan panjang. Tapi kalau di jalur Bayongbong, full tanjakan terjal dengan kemiringan diatas 50 derajat. Gak ada landai-landainya. Sayang saya tidak sempat mengambil foto jalur Bayongbong karena semua hp dibungkus plastik dan dikubur dalam carrier, jaga-jaga hujan dijalan. Mau bongkar lagi repot. Tapi kalau ada kesempatan lagi naik ke Cikuray, kecuali niat banget pengen jajal tanjakan “minta ampun”, sebaiknya pilih naik dari Pemancar aja daripada dari Bayongbong ^_^. Kalau turunnya boleh lah lewat sini.

Sekeluarnya dari jalur hutan, kami break sebentar. Mengisi perut dengan madu dan coklat. Pemandangan yang menyambut adalah perkebunan penduduk. Ladang-ladang disini didominasi oleh tanaman kentang. Agak kebawah baru ada Jagung dan Kol. Awalnya ketika bertemu kebun penduduk, kami mengira perjalanan telah berakhir. Didepan bisa naik mobil atau ojek. Namun ternyata dugaan kami salah. Masih butuh perjalanan sekitar 1,5 jam lagi untuk sampai ke kampung Sengklek, melewati perkebunan yang luas.


Disini kita bisa menemukan motor pengangkut pupuk dan hasil panen. Motor ini dimodifikasi untuk disesuaikan dengan medan pegunungan yang terjal. Bagian bannya diberi rantai, dan jok tempat duduk diganti papan kayu. Tapi jangan salah, biar penampilannya “gak jelas” begitu, motor ini mampu mengangkut 4 karung pupuk sekali jalan.


Sesampainya di kampung Sengklek, kami break di sebuah warung. Makanan disini murah-murah. Gorengan saja masih Rp. 1000 3 biji.  Disini pula kami berhasil mendapatkan ojek. Dia bersedia membawa kami sampai ke Cikajang. Dan dari Cikajang, disambung angkot ke Cisurupan. Untuk kemudian lanjut ke Kawah Papandayan. Ojek dari Sengklek ke Cikajang memasang tariff 20rb/orang. Sementara angkot Cikajang-Cisurupan Rp. 4rb/orang.

Ketika naik ojek, hujan turun. Kami tidak sempat memakai jas hujan. Ya udah hajar terus sampai Cikajang. Di Cikajang kami berteduh sebentar sambil menunggu angkot. Setelah beberapa lama, barulah dapat angkot berwarna kuning yang membawa kami ke Cisurupan. Setibanya di Cisurupan, begitu turun dari angkot, kami didekati seorang tukang ojek. Mereka menawarkan jasanya. Dari obrolan dengan tukang ojek itu, saya baru tahu bahwa ada kesepakatan antara tukang ojek dengan mobil pickup yang sama-sama mengantar wisatawan ke kawah Papandayan. Jika ada rombongan dibawah 5 orang, maka itu adalah jatahnya Ojek. Sedang jika rombongannya diatas 5 orang, maka itu jatahnya mobil pickup.  Meski calon penumpang bebas memilih mau naik ojek atau pickup. Namun yang boleh “approach” ya sesuai aturan tadi.

Setelah adu tawar, jadilah ongkos ojek dari Cisurupan ke Papandayan ditarif Rp. 25rb/orang. Kami berangkat setelah terlebih dahulu membeli perbekalan tambahan di Alfamart di dekat situ.

Setibanya di Papandayan kami disambut hujan lumayan deras. Dan suhu di Papandayan ini lebih dingin dibanding suhu di Puncak Cikuray. Saya sendiri sedikit heran. Mungkin karena disini anginya kenceng kali ya. Tapi meski dingin, masih acceptable lah.

Track Papandayan pastinya sudah pada tahu, jadi saya tidak pelu menggambarkannya lagi. Hanya mungkin sekarang, jalurnya lebih licin dan dibeberapa tempat terdapat lumpur lumayan tebal. Kita harus berjalan melipir, mencari pijakan yang lebih padat.

Setibanya di Camping Ground Pondok Saladah, kami mendirikan tenda di tempat yang cukup terlindung pepohonan. Supaya hembusan angin tidak langsung menerjang tenda kami.


Saat itu sore hari, hujan pula. Sehingga tidak banyak yang bisa kami lakukan, kecuali pasang tenda, mengisi air, bersih-bersih, lalu berlindung di dalam tenda sampai pagi.

Sabtu, 27 Dec 2014

Pagi itu Papandayan disiram gerimis dan diselimuti kabut. Saat suasana agak terang, kami berempat menuju ke Hutan Mati. Hutan Mati memang selalu menggugah kita untuk berimajinasi. Dan kali ini, fantasinya adalah tentang Shinobi. ^_^


Setelah dirasa cukup foto-foto, kami menuju ke Tegal Alun. Menjelang sampai ke Tegal Alun, kita harus melewati sebuah tanjakan yang popular dengan nama “Tanjakan Mamang”, jalurnya lumayan terjal, tapi tidak terlalu panjang, 5 menit selesai. Buat seru-seruan mah, asyik juga nanjak di Tanjakan Mamang ini. Fotonya bisa dilihat dibawah.


Suasana di Tegal Alun lumayan terang, meski kabut membayangi di ujung sana.


Dari foto diatas, Puncak Papandayan terletak di sebelah kiri foto. Adapun jalan menuju puncak, ada di belakang kami. Namun ketika melihat puncak diselimuti kabut tebal, kami jadi kehilangan selera untuk ke puncak. Karena disanapun kami tidak akan mendapat apa-apa selain kabut tebal. Akhirnya kami memuaskan diri mengambil foto di Tegal Alun saja.




Mbah Dukun, dengan tongkat sakti dan air suci. ^_^


Bunga Edelweiss yang masih kuncup, belum mekar. Namun lumayan berwarna.


Telaga musiman. Dalamnya paling hanya 20 cm saja. Ini sebenarnya hanyalah genangan air hujan yang tidak mengalir. Kalau musim kemarau, tempat ini berupa dataran kering yang lumayan luas. Namun di Musim Hujan, berubah jadi telaga dangkal. Tapi kalau difoto disini lumayan dramatis juga.  ^_^

Setelah puas foto-foto kami kembali ke Camping Ground, melalui jalur yang satu lagi. Jalurnya lumayan parah, karena jalannya berlumpur tebal. Selain itu turunannya curam, sehingga ketika turun kami harus berpegangan pada batang-batang pohon.

Setelah istirahat, kami berkemas dan bongkar tenda. Untuk kemudian pulang.

Ok, sekian dulu Catpernya (Catatan Perjalanan). Semoga bermanfaat. ^_^

Salam Lestari
  

Irpan Rispandi
@aa_irpan