Featured Post

Legenda Olah Raga Indonesia

Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia d...

Apr 9, 2015

Lembah Kasih Mandalawangi, Puncak Gunung Pangrango

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

~Soe Hok Gie – 1966

Langit berwarna biru keabu-abuan karena tertutup kabut. Didepan saya membentang dataran yang ditumbuhi pohon-pohon bunga abadi, Edelweiss. Inilah Lembah Kasih Mandalawangi, Puncak Pangrango.


Kesan yang terbit pertama kali adalah damai…sejuk… meski sedikit…… kesepian. Setelah memastikan bahwa itu adalah tempat yang dicari, saya kembali ke tempat tadi, Puncak Pangrango, dimana temen-temen Adventurers sedang foto-foto dengan Titik Triangulasi, penanda puncak Pangrango, 3019 mdpl. Jarak dari puncak Pangrango ke Lembah Kasih Mandalawangi sekitar 150 meter. Setelah memberitahukan rombongan bahwa Mandalawangi tidak jauh lagi dan kemudian mereka pun menuju kesana, sekarang giliran saya foto-foto dengan Titik Triangulasi ^_^



Kegiatan di Puncak Pangrango berpusat di Mandalawangi, selain foto-foto kami juga syuting video komersial ^_^ Serius ini, kebetulan ada seorang temen kita yang mempunyai label kaos sendiri, dan dia ingin membuat video komersial untuk labelnya tersebut. Ditengah-tengah syuting, turun hujan cukup deras, mau tidak mau semua kegiatan dihentikan. Namun sebelum pulang, sang Sutradara merangkap Kameramen, Ian Adiwibowo, meminta para talent untuk take beberapa video  singkat lagi. Menurut beliau justru suasana hujan ini sangat bagus untuk difilmkan.

Setelah dirasa cukup kami pun kembali ke puncak Pangrango untuk kemudian turun lagi ke basecamp di Kandang Badak, dimana dua rekan kami yang jaga basecamp dan tidak ikut muncak telah menungggu dengan makanan hangat yang siap disantap. Nah, ketika turun dari Puncak Pangrango ke Basecamp Kandang Badak inilah, rombongan mengalami kejadian yang mencekam, berjalan ditengah hutan yang gelap tanpa ada kepastian
apakah akan sampai ke tempat yang dituju atau justru ke tempat lain…..

Sehari sebelumnya…
Sesuai kesepakatan kami akan berkumpul di depan gado-gado boplo jl. Dr. Satrio. Elf yang kami carter akan standby disana mulai pukul 5:20. Dan rombongan akan bertolak pukul 6:00. Namun pada kenyataannya jadwal tersebut molor, dan saya termasuk salah-satu oknum yang telat itu ^_^. Saya sampai di situ jam 6:30. Setelah saling tunggu-menunggu, kami berangkat jam 7: 30-an dengan terlebih dahulu menjemput Rosi dan Ria yang mencegat di Cawang. Yang acara menjemput ini juga ada kesalahan teknis, karena kedua gadis ini menunggu di seberang jalan bukan di halte Cawang yang disisi utara.

Karena ada isu jam 9 arus lalin dari Jakarta menuju Puncak ditutup, maka kami mengambil jalur alternatif lewat Gadog. Perjalanan mencari jalur alternatif ini juga berliku-liku dan sempat berputar-putar. Untuk masuk ke jalur Gadog, kita keluar dari gerbang Sentul Selatan, kemudian masuk ke kawasan Real Estate Sentul City. Sebelum memasuki Jungle Land, kita belok  ke kiri, mengambil jalan yang menuju ke perumahan “Rainbow Hills”. Lalu ikuti jalan tersebut sampai kita keluar di Mega Mendung. Namun karena tidak ada seorangpun dari kami yang tahu pasti jalur alternatif itu, kami sempat berputar-putar dulu di Sentul City ^_^. Adapun orang yang tahu dan merekomendasikan jalur tersebut yakni Dimas, tidak ikut dengan rombongan Elf. Dia jalan sendiri bersama temannya Sogi, dari Bekasi mengendarai motor.

Begitu masuk Megamendung, jalanan macet -_-‘ Karena sudah memasuki waktu sholat Jumat, kami mampir di mesjid BPJS untuk menunaikan shalat jum’at disana. Setelah melalui macet dan macet lagi, barulah kami sampai ke CIbodas. Saat itu hari sudah sore.

Di Cibodas kami beristirahat di Warung Aris, warung ini merupakan kenalannya kang Amin. Kang Amin adalah teman saya yang tinggal di Cisarua. Dia bersama adik bungsu dan 1 saudaranya yang lain juga ikut bergabung dengan kita. Warung Aris ini berada di parkiran Bus di kawasan Cibodas. Dia berada diantara deretan warung-warung serupa yang ada disana.


Warung ini terdiri dari dua lantai. Di bagian depan berupa warung dan dibagian belakang dan lantai dua, terdapat ruangan luas yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk beristirahat. Kita bisa tidur-tiduran disana dan memesan makanan, baik makanan berat maupun makanan ringan.



Kami baru start mendaki selepas maghrib.  Setelah 3 jam perjalanan rombongan beristirahat. Kebetulan kami menemukan shelter permanen. Disitu kami gelar matras dan sleeping bag. Kemudian tidur seperti ikan asin. Seru juga tidur dialam terbuka tanpa tenda. Kondisi ini sukses membuat kami kesulitan tidur karena meski dibungkus sleeping bag, namun hawa dingin berhasil menelusup masuk. Semua mengalami hal yang sama kecuali satu orang. Dia adalah Bro Kamal, yang berhasil mencapai dengkuran pertamanya 5 menit setelah terbenam dalam sleeping bag. ^_^

Sekitar jam 2 pagi rombongan melajutkan perjalanan menuju Kandang Badak. Ternyata dari shelter yang kami gunakan ke Kandang Badak itu masih cukup jauh. Masih harus melewati Air terjun Cipanas, Kandang Batu baru Kandang Badak. Melakukan aktifitas fisik di waktu yang seharusnya saat itu kita terlelap tidur, memang tidak biasa. Tubuh jadi cepat lelah. Namun karena kita tidak sendiri, kehadiran teman seperjalanan memberikan kekuatan yang meneguhkan setiap langkah. Saat hari sudah terang, kami sampai di Kandang Badak.


Suasana di Kandang Badak bak pasar festival. Semua area ditutupi tenda warna-warni. Riuh orang berbicara dan bercanda. Malah ada saat dimana mereka berteriak seperti Primata yang teriakannya ini disambut oleh Primata-Primata lain dari tenda yang lain dan akhirnya semua tenda melengkingkan pekikan yang sama, saling bersahutan. Welcome to the junggle ^_^


Salah satu yang selalu membuat saya terharu ketika mendaki adalah kebersamaan. Semua orang dengan kesadaran sendiri ambil bagian dalam menyelesaikan tugas-tugas yang ada. Ada yang mendirikan tenda, ada yang menyiapkan makanan, ada yang mengambil air. Yang kesemuanya itu tak ada yang mengomando, semua bergerak sendiri. Rasa kebersamaan ini sungguh indah…



Setelah dirasa cukup istirahat dan sarapan, kami start lagi. Tujuan berikutnya: Puncak Pangrango. Namun dari 17 orang rombongan kami, yang mendaki ke puncak hanya 15 orang, 2 orang lagi jaga kandang, menjaga 4 tenda dan semua tas dan peralatan kami.

Jalur pendakian ke puncak Pangrango didominasi oleh jalan setapak sempit dan licin. Tanjakan-tanjakannya lumayan terjal. Untungnya kita naik gak sambil gendong carrier, sehingga perjalanan mendaki ke puncak relatif lebih ringan. Pemandangan alam yang berupa hutan tentulah jadi ajang narsis tak berkeputusan. Setiap ada objek yang dianggap menarik, entah itu tumbuhan, pohon tumbang, tanjakan licin, semuanya jadi objek narsis. ^_^ Akibatnya perjalanan jadi lebih lama dari yang seharusnya.



Lewat tengah hari, kami baru sampai puncak. Saat itu suasana puncak cukup hazy, karena kabut dan awan hujan. Sesekali petir menggelegar dan rasanya dekat sekali dengan kepala. Seolah-olah kilatan petir dan dentuman Guntur itu hanya beberapa jengkal diatas ubun-ubun. Pohon-pohon yang batangnya berlumut berlatar belakang kabut memberikan kesan hutan yang misterius namun…. bersahabat.


And so the story goes, kegiatan di puncak adalah seperti yang saya ceritakan tadi di bagian awal.

Meski hujan, narsis tetap berlanjut ^_^


Perjalanan turun ternyata tidak bisa lebih cepat dari ketika naik tadi. Masalahnya adalah jalur yang licin, sehingga kita harus ekstra hati-hati ketika melangkah. Karena kalau sampai tergelincir, jatuh bahkan kaki keseleo, repot urusannya. Sementara hari semakin sore…

Saya berjalan paling belakang. Rombongan saat itu ada 8 orang, Nanang, Ria, Adi, Aci, Ian, Rosi, Chandra, dan terakhir saya. Sedang yang lainnya: Iwan, Sugeng, Kamal, Pak Arif, Kang Amin, dan Dimas sudah dululan. Tiba tiba rombongan berhenti. Nanang, yang berada paling depan berteriak ke saya memberitahukan bahwa jalan yang dilewati berbeda, bukan jalan ketika naik tadi… Nah lo!

Rasa dingin dan perih sekelebat menyayat hati saya. Saya kemudian berjalan kedepan melewati Nanang, dan setelah menitipkan botol air yang saya bawa ke Adi, saya maju terus kedepan secepatnya. Sambil berjalan saya perhatikan sekeliling. Jalannya sih jalan yang sering dilalui orang. Terlihat dari bekas pijakan kaki yang dalam. Saya bersyukur saat itu musim hujan, sehingga jalan becek dan berlumpur. Dengan demikian jejak kaki tercetak dalam dan jelas. Saya terus melaju kedepan. Sesekali saya melihat sampah bekas kemasan tolak angin atau permen, dsb. Ok, berarti orang banyak yang lewat sini, ini adalah jalur pendakian. Masalahnya, jalan ini berakhir di Kandang Badak atau nggak?

Sambil menguatkan hati, saya terus berjalan, sampailah saya diujung  lereng, dimana saya bisa melihat dataran tertutup pepohonan lebat. Menurut perkiraan saya, diseberang dataran itu, terletak Kandang Badak. Jalan membelok kekanan, sementara hari mulai gelap.

Saya berteriak ke atas, memberitahu rombongan untuk terus maju, mereka menyahut. Saya menunggu sambil mengamati sekeliling. Jalur pendakian dari Kandang Badak ke Puncak Pangrango memang seperti kerucut. Kita memutari alas kerucut dulu seperempat putaran, baru kemudian menanjak keatas. Karena jalan membelok kekanan, mudah-mudahan ini jalur yang benar, menuju Kandang Badak.

Saya kembali berada di posisi paling belakang. Sampai suatu saat rombongan kembali terhenti. Dari depan memberitahu bahwa jalannya berakhir di jurang yang dibawahnya sungai. Kembali saya kedepan untuk melihat kondisi.. Saya perhatikan jalan, bekas-bekas pijakan memang masih ada, namun menuju ke jurang yang ada sungai itu? Saya ikuti dan benar. Dia masuk kesitu, namun untunglah jurangnya tidak terlalu dalam, mungkin hanya lima meter. Namun tetep saja pada kondisi demikian yang namanya jurang, mau satu meter, mau lima meter, tetap saja berbahaya. Jalan setapak yang menurun ini benar-benar dibibir jurang. Setelah saya perhatikan, ada tali webbing yang terikat di batang pohon melintang. Percaya atau tidak, saya girang bukan main melihat tali webbing ini. Keberadaan tali berarti satu hal, ini adalah “jalan raya” ^_^.

Para pendaki terkadang bosan dengan jalur yang biasa saja, mereka ingin tantangan. Makanya suka ada aja yang mengambil jalur yang berat dan berbahaya. Nah, rupanya jalur yang kami lewati ini adalah jalur para “adrenalin junkie”. Yang artinya lagi, kita berada di jalan yang benar. Alhamdulillah semua bisa melewati dan menyeberangi sungai atau tepatnya selokan kecil namun dalam itu dengan selamat. Terima kasih pada para pendaki yang memasang tali webbing disana.

Ketika di selokan ini, kami mendengan riuh orang dibelakang. Rupanya ada rombongan lain yang sama-sama mengambil jalur ini. Saya merasa semakin besar hati, karena teman semakin banyak. Kali ini saya paling depan, dengan bantuan senter saya memperhatikan jalan dan mencoba mengikuti jalur. Sampai suatu tempat, kami menemukan sekelompok tenda. Lega rasanya….

Saya bertanya pada orang-orang ditenda, dimanakah letak Kandang Badak? mereka memberitahu, bahwa Kandang Badak ada dibawah. Ikuti saja jalur itu, nanti juga sampai. Saya coba mengikuti jalur yang ditunjukkan, sampai suatu tempat, jalan membelok dan blank!. Saya tidak melihat jejak kaki. Wadduh, gimana nih?

Sejenak pikiran seram menghantui saya, itu tenda berada ditengah hutan…. Tenda apaaan?.... saat itu saya sendirian, dan teman-teman saya minta menunggu dibelakang. Saya kembali ke belakang dan masih menemukan tenda tersebut. Syukurlah tendanya masih ada, kirain sudah ilang ^_^ saya teruskan lagi ke belakang sampai bertemu yang lain. Saya ajak ke tempat tenda-tenda tadi. Disitu saya mencoba meminta bantuan salah satu orang dari mereka untuk mengantar kami ke Kandang Badak, namun sepertinya mereka sedang sibuk. Dan mereka hanya menunjukkan jalanya saja.

Saya pun kembali jalan lagi diikuti temen-temen yang lain. Sampai titik blank tadi, saya coba mencari-cari dan memperhatikan lagi, Alhamdulillah ketemu juga ^_^ Jalannya ketemu lagi, dan kami pun melanjutkan perjalanan. Jalur tersebut rupanya berakhir di mata air Kandang Badak, dimana orang-orang yang nge-camp di Kandang badak, biasa mengambil air dan mencuci peralatan masak dan makan disana. Tak terkatakan leganya perasaan saya. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih kami diselamatkan…

Acara malam itu intinya adalah  bersih-bersih, makan dan tidur. Soalnya jam 2 nanti kami akan turun dan terus pulang.

Rupanya semua mengambil jalan yang sama, jalan adrenalin junkie itu. Rombongan yang duluan: Sugeng, Dimas, Iwan, Pak Arif, dan Kang Amin. Mereka juga melalui jalan yang sama. Hanya saja, ketika ketemu jurang, mereka memutuskan kembali keatas, dan mencari jalan yang tadi dilewati ketika naik. Dan mereka berhasil menemukannya.

Mengapa kami semua bisa salah mengambil jalan? Menurut Sugeng, di titik persimpangan jalur biasa dan jalur adrenali junkie ini, ada orang yang memasang tenda. Sehingga orang yang turun dan tidak memperhatikan jalan, tidak menyadari ada persimpangan karena tertutup tenda. Ketika mereka seharusnya belok kanan, mereka malah lurus. Jadilah menempuh jalur adrenalin junkie ^_^

Jam 1 Malam kami berkemas, dan dua jam kemudian rombongan bergerak turun ke Cibodas. Perjalanan pulang relative lancar tanpa ada kejadian berarti. Hanya saja karena semua pada lelah, perjalanan lumayan lambat. Kami start turun sekitar jam 3 dan sampai kembali di Cibodas, jam 8 pagi.

Ok, sekian dulu catpernya.

Salam Lestari

Irpan Rispandi