Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Jul 15, 2015

Sawarna on Foot - Pantai Legon Pari, Tanjung Layar dan Goa Lalay


Tanjung Layar, icon Sawarna
Nama Sawarna mulai  mencuat beberapa tahun belakangan ini. Tujuan wisata yang terletak di daerah Bayah, provinsi Banten ini semakin ramai dikunjungi para pelancong. Baik Turis dalam negri maupun luar negri.

Sawarna memang bukan hanya pantai, di sana ada juga Gua-gua, Sungai yang berkelok membelah pesawahan yang hijau,  serta bukit-bukit yang masih terjaga hutannya. Mengunjungi Sawarna, kita akan mendapatkan semuanya.

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Sawarna. Meski karena keterbatasan waktu, tidak semua tujuan wisata di sana bisa saya kunjungi. Pada kesempatan tersebut, saya hanya mengunjungi beberapa saja, yakni:

  • Tanjung Layar
  • Pantai Legon Pari
  • Gua Lalay

Barangkali ada yang masih belum tahu dimana itu Sawarna, berikut petanya:


Perlu saya ingatkan bahwa jangan terlalu percaya pada perhitungan jalur dan waktu tempuh yang disarankan google maps ^_^. Karena jalur dan perhitungan waktu tempuh itu menggunakan kondisi ideal. Sementara pada kenyataannya di jalan, banyak faktor yang berpengaruh.

Untuk jalur yang bisa diambil jika dari Jakarta, kita bisa lewat Sukabumi,bisa juga lewat Serang. Yang paling gampang gak banyak cabang sih lewat Sukabumi. Namun harus siap dengan macetnya. Terutama di daerah selepas Ciawi, Bogor. Adapun kalau lewat Serang, kita akan banyak menemukan percabangan-percabangan jalan yang tidak ada papan petunjuk arah. Sehingga kita bisa dengan mudah salah jalan dan tersesat. Saya pernah mengalaminya ^_^

Kami jalan Hari Jum'at  malam dari Jakarta, dengan target, pagi sampai di Pelabuhan Ratu, kita menikmati Sunrise sambil sarapan. Kita break sarapan di Pantai Karang Hawu.
Pantai Karang Hawu
Pantai Karang Hawu
Kami sarapan Bubur Ayam dan Lontong Sayur. Enak-enak, cuma harganya sama dengan harga Jakarta ^_^ semangkuk Bubur Ayam harganya 8rb.

Setelah cukup sarapan dan menikmati pantai, kita lanjut lagi. Dari Karang Hawu ke Sawarna masih 30-an km. Jalannya tidak terlalu lebar, muat dua mobil pas. Sudah gitu jalannya menanjak dan menurun dan berkelok-kelok. Sebaiknya hati-hati mengemudi disini. Gambaran seperti apa jalannya, bisa dilihat di video perjalanan dibawah.

Setelah sejam-an lebih, baru lah kami sampai di Sawarna.  Namun jangan senang dulu, karena dari turun mobil ke Pantai itu, masih cukup jauh. Dari tempat parkir mobil ke Pantai Legon Pari yang jadi tujuan kami, jaraknya masih 1 Km.

Berikut adalah peta perjalanan kami selama di Sawarna.

Tujuan Wisata di Sawarna
Tujuan Wisata di Sawarna - sebagian dari banyak ^_^

Sebenarnya untuk mencapai tempat-tempat tersebut, kita bisa menggunakan jasa ojek. Meski harganya relatif mahal. Dari parkiran/jalan ke pantai Legon Pari, yang jauhnya sekitar 1 Km itu, tarif ojeknya 20rb. Lumayan ^_^. Kita juga  bisa sewa ojek seharian buat keliling semua objek di Sawarna. Tarifnya 120rb. Bagi yang punya dana lebih dan tidak terlalu biasa olahraga, naik ojek bisa jadi solusi.

Berikut adalah foto Pantai Legon Pari yang jadi tujuan kami:

Pantai Legon Pari
Pantai Legon Pari


Camping di pantai
Camping di pantai, di depan Warung.

Camping di Pantai
Camping di Pantai
Pantai Legon Pari ini relatif lebih sepi dibanding Pantai Ciantir dan Tanjung Layar. Sehingga kita bisa lebih bisa menikmati deburan ombak, angin pantai, dan pohon-pohon kelapanya. Sepanjang pantai banyak warung yang menjual makanan dan minuman. Malah mereka juga menerima pesanan makan.

Itulah yang kami lakukan. Kami camping di depan warung, dan untuk kebutuhan logistik, kami pesan ke warung. Untuk makan, dihitungnya 20rb/orang sekali makan. Menunya: Nasi, Lauk (Ikan atau ayam), tahu tempe, lalapan, sambel, minum (air kemasan dan air di teko). Kemarin kami camping di depan warungnya Teh Olis. Kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dengan toilet umum.

Oh iya, toilet umumnya harus bayar. Sekali pakai 5rb. Namun untungnya kami bisa bayar "borongan" ^_^ untuk sehari semalam, dihitung 10rb/orang. Dan sebagai tambahannya, ke bapak pengelola toilet umum ini, kami pesan ikan untuk dibakar nanti malam. Kami dapat ikan Bentong seukuran telapak tangan, 25 ekor.


Makan prasmanan di pantai
Makan prasmanan di pantai
Siang itu kami tidak banyak beraktifitas, karena matahari bersinar terik. Kami hanya duduk-duduk aja di bale-bale sambil nyanyi-nyanyi ditemani kelapa muda. Kebetulan ada temen yang bawa gitar. Udah deh konser mini lah kita, lebih dari dua album ^_^

Selepas Ashar, setelah cuaca teduh, kami mengunjungi ikon Sawarna: Tanjung Layar. Untuk mencapai Tanjung Layar, kita harus jalan kaki sekitar 1,5 Km menyusuri pantai. Pemandangannya asik.
Jalan setapak dari Legon Pari ke Tanjung Layar
Jalan setapak dari Legon Pari ke Tanjung Layar
Suasana di Tanjung Layar berbeda sekali dengan Legon Pari. Disini crowded banget. Banyak orang. Warung-warungnya juga lebih banyak, jadinya lebih mirip pasar. Disini juga terlihat beberapa tenda. Mereka juga pasti camping seperti kami.

Dari pantai ke Batu yang berbentuk Layar terpisah air laut selebar yaa... mungkin 100 meter. Tapi dasarnya dangkal, sepinggang orang dewasa lah. Saya menyeberangi air tersebut dan melihat batu Layarnya dari dekat. Saya gak tahu nama resmi batu jenis itu, tapi menurut saya itu semacam batu Cadas gitu lah.

Setelah puas foto-foto di Tanjung Layar, kami kembali ke Legon Pari. Saat itu menjelang Maghrib. Jalan menyusuri Pantai beresiko, karena air sedang pasang. Akhirnya kami mengambil jalan memutar, melewati bukit kecil. Jalan setapak yang kami lalui di bukit ini juga merupakan jalur sepeda atau motor. Jadi pengunjung Sawarna ini ada juga yang "goweser" atau penyuka motor trail. Mereka bersama teman komunitasnya bisa menjelajahi seluruh Sawarna dengan sepeda, melewati jalur jalan setapak seperti ini.

Pemandangan Pantai Ciantir dari jalur diatas Bukit
Pemandangan Pantai Ciantir dari jalur diatas Bukit

Malamnya, kembali kita konser mini sambil makan malam. Dan ketika malam semakin larut, tibalah waktunya bakar Ikan Bentong. Oh ya, di Pantai-pantai di Sawarna ini, kita dilarang membuat api unggun. Karena akan merusak keindahan Pantai. Karenanya, kami membuat bakaran ikan di saluran air yang kebetulan saat itu sedang kering. Letaknya dekat bale-bale di depan warung.

Bakar Ikan
Bakar Ikan

Ikan bakar malam
Ikan bakar malam-malam, mak nyus
Setelah kenyang makan ikan bakar, satu-persatu mulai pada tidur. Ada yang di dalam Tenda tapi ada juga yang berbaring gitu aja di bale-bale. Saya sendiri tidurnya di bale-bale, ternyata sensasinya beda ya tidur di bale-bale di pinggir pantai gitu. Meski agak kedinginan karena angin tapi seru.

Paginya, sambil nunggu sarapan yang sedang disiapkan Teh Olis di warungnya, kami menikmati pantai, nyebur ke laut dan bermain ombak. Para pemilik warung dan penjaga Toilet ini ternyata merangkap juga sebagai lifeguard alias penjaga pantai. Dia akan mengingatkan para pengunjung yang berenang ke laut, supaya tidak terlalu ketengah, karena ombak laut selatan itu terkenal kuat. Selain itu ada bagian pantai yang berupa karang yang dalam tapi tidak terlalu kelihatan. Sehingga orang bisa terperosok kesitu dan tenggelam. Jika ada orang yang berenang terlalu ketengah atau mendekati daerah bahaya, penjaga warung dan toilet akan bersuit atau teriak, kemudian melambaikan tangan memberi tanda jangan terlalu jauh atau jangan ke daerah itu. Baik banget ya ^_^.

Ombak pantai Legon Pari
Incomiiiinggg...

Sunrise at Legon Pari
Sunrise at Legon Pari
Saat sarapan tiba. Meski kami belum puas bermain ombak, kami masih punya satu agenda lagi yakni menjelajah Goa Lalay. Sementara waktu yang kami punya tidak banyak, hanya sampai tengah hari ini. Selepas tengah hari kami harus bertolak pulang.

Setelah sarapan, rombongan menuju ke Goa Lalay. Jalannya melalui jalan berbukit yang lumayan nanjak. Tapi pemandangannya indah, berupa kebun dan Sawah. Sayangnya sawahnya sudah di panen, sehingga kondisi sawahnya tidak hijau, hanya bekas-bekas jerami saja.

Pemandangan Sawah di jalur menuju ke Goa Lalay
Pemandangan Sawah di jalur menuju ke Goa Lalay
Sesampainya di Goa Lalay, yang pertama dilakukan adalah menuju pos pendaftaran. Disitu kita membayar tiket masuk 5rb/orang. Kita juga bisa menyewa tour guide yang akan menemani kita menjelajah Gua. Ketika saya nanya Guide tarifnya berapa, penjaga pos bilang "Seikhlasnya" ^_^ saya beri 50rb.

Peta Goa Lalay
Peta Goa Lalay
Di pos pendaftaran terdapat peta Goa Lalay. Menurut informasi dari penjaga pos, Goa Lalay ini bercabang didalamnya. Dan jalur terjauh adalah sejauh 2,5 Km. Namun umumnya pengunjung hanya menelusuri sejauh 400m saja sampai percabangan di tengah. Ada juga sih yang menjelajah jalur terjauh malah menjelajahi semua jalur yang ada. Untuk penjelajahan yang seperti ini, mereka diwajibkan menggunakan peralatan keselamatan seperti helm. Dan harus ditemani oleh guide, untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Btw, untuk penjelajahan jauh begini tarif masuknya juga beda, 25rb/orang dan guidenya juga beda honornya.

Kami hanya mengambil yang umum aja, yakni rute sejauh 400 meter.

Mulut Goa Lalay
Mulut Goa Lalay

Interior Goa Lalay
Interior Goa Lalay

Interior Goa Lalay
Interior Goa Lalay
Lantai Goa berupa sungai dangkal berdasar pasir. Di beberapa tempat ada dasar yang berupa tanah liat. Namun karena sering dilewati orang, dasar goa berupa tanah liat ini berlubang-lubang bekas pijakan kaki yang semakin terbenam kedalam. Stalaktit di langit-langit goa bergantungan. Banyak noda-noda hitam di sekujur stalaktit tersebut. Noda hitam ini adalah kotoran Lalay (kelelawar). Menurut Guidenya, pada waktu-waktu tertentu, di langit-langit goa banyak sekali Lalay. Namu ketika kami kesitu, Lalaynya nggak ada.

Perjalanan menyusuri goa sungguh mengasikan. Dan ternyata jalur 400 meter itu terasa sangat pendek. Belum puas kami menjelajah, guidenya bilang kita sampai di tujuan dan akan balik lagi. Yaaaah.... we want more, we want more, we want more ^_^ Akhirya meski gak puas, kami kembali juga.

Di dekat Goa Lalay ada sungai. Kami tidak melewatkan ini. Setelah selesai dengan gua, kami menuju ke sungai. Kebetulan di sungai itu ada bagian sungai yang agak dalam dan biasa dipakai oleh anak-anak setempat untuk berenang. Kami pun tentu saja tidak melewatkan kesempatan ini. Nyebur di sungai sungguh segar ^_^

Jalan dari Goa menuju Sungai melewati Sawah
Jalan dari Goa menuju Sungai melewati Sawah

Sungai di dekat Goa Lalay
Sungai di dekat Goa Lalay


\

Tak terasa waktu semakin siang. Meski kami masih asik bermain di Sungai, namun waktu sudah tidak mengijinkan. Akhirnya kami pun kembali ke pantai Legon Pari. Beberapa teman merasa tidak kuat jika harus jalan lagi dari Goa Lalay ke Legon Pari. Akhirnya mereka menyewa ojek yang tersedia di pos pendaftaran. Tarifnya 25rb/orang. Jadilah rombongan terbagi dua, ada yang jalan ada juga yang naik ojek.

Sesampainya di Legon Pari, kami berkemas sambil menunggu makan siang. Sebelum pulang kami foto bersama lagi.

Foto bersama sebelum pulang
Foto bersama sebelum pulang
Selepas Dzuhur, kami kembali ke Jakarta.