Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Aug 14, 2015

Gunung Munara - Hiking Pendek Yang Memacu Adrenalin

Gunung Munara

Gunung Munara Puncak Batu Belah
Puncak Batu Belah
"Disini mulai rame sejak tahun baru kemarin"
"Tahun baru 2015 ini?"
"Iya, tahun baru 2015 ini, sebelumnya mah paling Sabtu Minggu doang, itu juga paling banyak 50 motor"

Begitulah percakapan singkat saya dengan teteh pemilik warung kelapa muda. Saya bertanya padanya sejak kapan Gunung Munara ini banyak dikunjungi. Nama Gunung Munara sekarang ini semakin sering dibicarakan orang. Spot pendakian yang terletak di daerah Rumpin, Bogor, ini memang tengah naik daun. Alasannya adalah, Gunung Munara memberikan tantangan yang sekelas naik gunung, namun jaraknya relatif pendek. Dari start mendaki sampai ke puncak, dibutuhkan waktu 1 – 1,5 jam saja.

Saya pun tertarik untuk menjajal track pendakian di Gunung Munara ini. Oh ya, meski namanya Gunung Munara, sebenarnya ini adalah sebuah bukit dengan batu-batu yang sangat besar. Dan yang membuat saya heran, banyak sekali batu-batu besar sebesar rumah yang tumpang tindih sedemikian rupa seolah sengaja disusun. Saya jadi berkhayal, ngebayangin dulu ada orang yang sangat sakti yang mampu mengangkat batu-batu sebesar rumah itu, terus menyusunnya ^_^.


Dari PMI (Pondok Mertua Indah ^_^) di daerah Leuwiliang, Bogor, saya berempat bersama adik ipar dan sepupu-sepupu naik dua motor ke Gunung Munara. Menyusuri jalan Rumpin
menuju ke Parung. Selepas pertigaan jalan raya Ciampea-Parung, kita harus mulai jeli memperhatikan plang jalan di sisi kiri. Gerbang masuk ke lokasi itu pas di tikungan. Dari jalan raya ke tempat parkir jaraknya tidak sampai 1 km, menyusuri jalan kecil, ngepas untuk 2 mobil.

Gerbang masuk dari Jalan Raya - dilihat dari arah Ciampea

Gerbang masuk dari Jalan Raya - dilihat dari arah Parung

Sesampainya di tempat parkir telah berjajar banyak sekali motor. Disini kita akan diberi karcis parkir yang oleh penjaga parkir ditulisi nomor polisi kendaraan kita. Pas saya tanya bayarnya sekarang atau nanti, si penjaga bilang bayarnya di loket pembelian tiket.

Gunung Munara Gerbang Tiket
Gerbang tempat bayar tiket pendakian

Biaya parkir motor Rp. 5000,-/motor dan tiket masuk kawasan Gunung Munara juga Rp. 5000,-/orang. Setelah motor diparkir dengan rapi, kami menuju gerbang masuk yang disana terdapat pos bayar tiket sekaligus jadi tempat pemeriksaan. Pemeriksaannya lumayan teliti, tas yang kita bawa dibuka terus diperiksa isinya.  Kami masing-asing hanya membawa tas pinggang, dan satu tas ransel. Sambil menunggu saat tas diperiksa, saya mengambil foto Peta jalur pendakian:

Gunung Munara Peta Jalur Pendakian
Peta Jalur Pendakian

Setelah semua urusan administrasi selesai, perjalananpun dimulai. Dari pos tiket dan pemeriksaan, kami masih jalan melewati jajaran warung dan rumah penduduk. Setelah itu ada sungai yang saat itu airnya sedang kecil. Sayang sekali banyak sampah dipinggir sungai, sehingga pemandangan sungai tersebut jadi gak alami lagi. Sungai ini bisa diseberangi dengan meniti sebuah jembatan bambu. Selepas jembatan bambu, kita akan masuk ke jalan tanah yang lumayan lebar. Sisi kiri-kanan jalan berupa kebun penduduk dan rumpun Bambu. Sesekali kami berpapasan dengan kambing-kambing yang sedang digembalakan.


Gunung Munara Jalur Awal Pendakian
Jalur Awal Pendakian

Di sepanjang jalan, banyak sekali warung, bisa dikatakan setiap 50 meter ada warung. Dan ini berlaku sampai puncak. Sehingga kalau kita mendaki ke sini, kayaknya cukup bawa diri sama bawa uang aja. Makanan sepanjang jalan tersedia ^_^. Meski harganya lebih mahal. Contohnya air minum kemasan ukuran 600ml, harganya 6rb.

Setelah beberapa waktu, jalan mulai menanjak, kami tertarik dengan jalan setapak yang berbelok ke kanan, keluar dari jalur utama. Kami mengikuti jalan tersebut. Meski samar, kami masih bisa melihat bahwa jalan itu pernah dilalui manusia. Setelah beberapa lama, kami bertemu dengan tantangan pertama, sebuah batu yang lumayan tinggi. Tapi asik untuk di panjat.


Gunung Munara Jalur Alternatif
Belok ke jalur Alternatif
Selang beberapa lama lagi kami berjalan, kami  disuguhi pemandangan yang luar biasa:
Gunung Munara Pemandangan di Lereng
Pemandangan di Lereng

Gunung Munara Pemandangan di Lereng
Pemandangan di Lereng
Sejenak kami berhenti menikmati semua keindahan ini. Perjalanan pun dilanjutkan. Masih menyusuri jalan setapak yang samar-samar, melewati celah diantara dua dinding batu yang tinggi. Tak lama kemudian kami bertemu dengan tantangan berikutnya, sebuah dinding batu yang lumayan tinggi dan hampir tegak lurus. Pada dinding tersebut menjulur akar-akar lumayan besar. Kami coba akar-akar tersebut dengan menarik-nariknya ke bawah. Ternyata akar itu cukup kuat untuk menahan berat badan kami. Jadilah kami memanjat dinding batu tersebut dengan berpegangan pada akar. Untunglah pada dinding batu banyak tonjolannya, gak licin. Tonjolan-tonjolan tersebut kami gunakan untuk tempat berpijak. Seru banget manjat disini.


Gunung Munara Panjat Dinding
Tantangan panjat batu dengan bantuan Akar

Diatas kami disuguhi pemandangan seperti ini. Tepat berhadapan dengan Puncak Batu Belah.


Gunung Munara Puncak Batu Belah
Pucak Batu Belah dari samping
Puncak Batu Belah adalah  ikon dari Gunung Munara. Disebut batu belah karena ini berupa dua buah batu yang besar sekali, yang berdampingan seolah-olah batu ini terbelah. Atau bisa juga dulunya ini adalah satu batu terus terbelah menjadi dua. Bagaimana bisa terbelah? wallahualam ^_^


Di kaki Batu Belah, terpampang sebuah papan peraturan.


Gunung Munara Peraturan
Peraturan
Batu Belah ini berdekatan dengan sebuah pelataran yang disana terdapat banyak situs-situs bersejarah.

Gunung Munara Situs Sejarah
Pelataran di sekitar Situs Sejarah

Di tiap situs ada sebuah plakat dari batu marmer, disana tertulis nama dari situs bersejarah tersebut. Ada situs "Tapak Tongkat Sultan Hasanudin Banten", ada juga "Goa Tawasul Petilasan Sultan Maulana Hasanudin Banten Bin Syekh Syarief Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati)"
Situs Sejarah
Situs Sejarah

Dan yang paling terkenal di pelataran situs ini adalah situs Goa Sukarno. Konon dulu Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno, suka bertapa di gua ini.

Gunung Munara Goa Sukarno
Goa Sukarno

Gunung Munara Interior Goa Sukarno
Interior Goa Sukarno
Saya masuk ke Goa tersebut. Goa ini sebenarnya berupa sebuah celah diantara "tumpukan" batu-batu besar sekali. Jadi ruangannya tidak berbentuk lubang tapi lebih berupa rongga antar batu. Pintu masuk goa ini menyerupai lubang yang ada di bawah tanah. Ruangan didalamnya tidak begitu luas, tercium bau minya wangi. Mungkin penduduk sekitar secara berkala suka memercikkan minyak wangi di ruangan ini. Di bagian langit-langit goa tampak beberapa ekor kelelawar menggelantung. Ada juga yang kemudian terbang karena merasa terganggu.

Goa Sukarno dan Goa Sultan Hasanudin tadi, letaknya berdekatan dan masih dalam satu kawasan. Namun ini belum sampai ke puncak. Masih butuh 15-20 menit lagi untuk mencapai puncak. Jalannya lumayan menanjak dan berupa jalan tanah. Untunglah saat itu musim kemarau, sehingga tanahnya kering bahkan keras. Kalau hujan, sudah pasti jalan ini licin sekali. Sangat berbahaya, terutama ketika turun, kita bisa terpeleset dan menggelosor kebawah.


Gunung Munara Anak penduduk sekitar
Anak penduduk sekitar
Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan banyak anak-anak kecil. Sepertinya mereka anak penduduk sekitar yang membuka warung disini.

Selang beberapa lama, sampailah kita dipuncak atau biasa disebut Puncak I. Puncak Gunung Munara berupa pelataran memanjang yang tidak terlalu luas. Terdiri dari batu-batu besar juga. Spot yang paling bagus adalah yang ada pemandangan bukit disebrangnya. Sayang saya lupa menanyakan bukit yang diseberang itu namanya bukit apa. Bentuknya seperti lonceng, sayang sekali di satu sisi bukit tampak tergerus, bekas penambangan tanah/pasir. Namun sepertinya penambangannya sudah dihentikan, karena bagian yang tergerus tersebut tampak mulai ditumbuhi berbagai pepohonan.


Gunung Munara Puncak 1
Suasana Puncak 1
Sepertinya daerah Rumpin ini merupakan daerah tambang pasir. Dari puncak Gunung Munara ini jika kita berputar ke sisi yang lain, kita bisa melihat sebuah dataran yang tampak gersang. Beberapa bangunan berdiri disana. Sepertinya itu adalah tambang pasir juga, bahkan dalam skala yang lebih besar.
Gunung Munara Penambangan Pasir
Penambangan Pasir di kaki Bukit Gunung Munara

Di puncak ini terdapat sebuah pohon besar yang akar-akarnya mencengkram sebuah batu besar. Salah satu sisi batu ini berupa diding. Akar-akar pohon berserabutan di seluruh permukaan dinding ini. Tentu saja ini menjadi sebuah playground yang mengasikan buat kita yang suka manjat-manjat.

Gunung Munara Dinding Akar di Puncak 1
Dinding Akar di Puncak 1
Btw, di Gunung Munara ini banyak sekali dinding-dinding batu yang tegak lurus dan tinggi-tinggi.  Bagi penggemar Panjat Tebing atau Rapling, di sini banyak spot yang menantang. Saya juga kalau ada peralatan, mau juga coba Rapling/ Panjat Tebing disini. Tapi tentu saja minta ditemenin instruktur yang berpengalaman. Maklum saya belum pernah melakukan Panjat Tebing. ^_^

Setelah cukup puas mencoba panjat akar dan foto-foto, kami pun turun. Jalur turun yang ditempuh adalah jalur resmi. Banyak spot menarik disepanjang jalan. Salah satunya adalah ini.

Gunung Munara Jalur Turun
Jalur Turun
Berikut adalah foto-foto dari fasilitas-fasilitas yang terdapat di Gunung Munara.
Gunung Munara Musholla
Musholla

Gunung Munara Toilet Umum
Toilet Umum

Gunung Munara Kelapa Muda
Kelapa Muda

Gunung Munara Parkir Mobil
Parkir Mobil

Gunung Munara Parkiran Motor
Parkiran Motor
Dan ini adalah video lengkap perjalanan kami.


***