Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Sep 25, 2015

Review Film Everest (2015)



Ketika melihat poster Film Everest yang diposting seorang teman di account Pathnya, saya langsung tertarik. Apalagi pada ngajakin nonton bareng, langsung saya setuju.

Mendaki Everest adalah impian setiap pendaki gunung, tak terkecuali saya. Meski sudah membaca dari berbagai sumber tentang bagaimana beratnya medan Everest, bahkan taruhannya nyawa, namun itu tidak bisa mengubur impian saya untuk bisa kesana.

Jadilah sore harinya setelah kerja, saya bersama beberapa orang teman, nonton bareng film ini di sebuah bioskop di dekat tempat kerja.

Film Everest diangkat dari kisah nyata, Sebuah tragedi yg terjadi pada tgl 10  Mei 1996.

Adalah Rob Hall seorang pendaki profesional dan pemilik biro perjalanan "Adventure Consultants",
membawa 8 orang kliennya mendaki puncak tertinggi dunia ini. Klien-kliennya ini beragam, ada yang memang pendaki Gunung, ada juga pengantara surat, Reporter, bahkan ada seorang wanita berusia 47 tahun asal Jepang. Istimewanya, wanita yang bernama Yasuko Namba ini telah mendaki 6 dari 7 puncak dunia. Tinggal 1 gunung yang belum yakni Everest, puncak gunung tertinggi di dunia yakni 8,848 mdpl (meter dari permukaan laut).

Peroses pendakian ke Everest tidak sama dengan pendakian gunung-gunung di Indonesia. Kita tidak bisa terbang ke Nepal, lalu saat itu juga mendaki ke Puncak. Setiap pendaki harus menjalani Aklimatisasi. Aklimatisasi adalah  proses penyesuaian tubuh dengan kondisi alam yang baru, terutama ketinggian tempat yang berbeda. Lebih detilnya silahkan baca di wikipedia dan sumber lainnya di Internet ^_^.

Nah untuk mendaki Everest, dibutuhkan waktu aklimatisasi minimal 3 minggu. Selama 3 minggu ini, para pendaki akan tinggal di basecamp. Basecamp ini ada di dua tempat, di sisi Selatan yang ada di negara Nepal, terletak pada ketinggian 5,364 meter  (28°0′26″N 86°51′34″E). Dan satu lagi Basecamp sisi Utara yang ada di negara Tibet, terletak pada ketinggian 5,150 meter (28°8′29″N 86°51′5″E).

Sebagai perbandingan, tinggi puncak Mahameru (gunung Semeru) di Jawa Timur adalah 3,676 meter. Sedang tinggi puncak gunung tertinggi di Indonesia, yakni Puncak Jaya (Carstensz Pyramid) di Papua adalah 4,884 meter. Nah basecamp Everest letaknya di ketinggian 5,364 meter. Kebayang kan? ^_^

Selama 3 minggu aklimatisasi di Basecamp, para pendaki akan menjalani beberapa "Pendakian Percobaan" ke berbagai rute. Tujuan pendakian percobaan ini adalah supaya tubuh pendaki menjadi terbiasa dengan ketinggian, suhu, dan kadar oksigen di udara yang rendah.

Setelah masa aklimatisasi ini, barulah mereka akan mendaki ke Puncak Dunia, puncak Everest.

Puncak Everest
Adegan ketika pendaki berhasil mencapai Puncak Everest

Kembali ke cerita film, setelah melewati masa aklimatisasi, pada hari Jum'at, 10 Mei 1996, rombongan yang dipimpin oleh Rob Hall bertolak menuju puncak. Pada perjalanan mendaki ini terjadi beberapa insiden kecil, namun tetap bisa diatasi. Semakin keatas medan semakin berat, sementara daya tahan tubuh para pendak ini berbeda-beda.

Disini saya kagum pada Anatoli Boukreev, pada pendakian ini Anatoli merupakan bagian dari tim pemandu pendakian, bersama sherpa Ang Dorje, dan Andy "Harold" Harris. Yang membuat saya kagum adalah Anatoli mendaki sampai puncak Everest tanpa bantuan tabung Oksigen. Tubuhnya mampu menyesuaikan diri dengan kondisi puncak yang Ekstrim. Malah ketika turun, setelah melewati badai dan sampai di Camp terakhir sebelum puncak, Anatoli masih bisa balik lagi keatas untuk membantu pendaki lain yang tak sadarkan diri ketika terjadi insiden jatuh dan tabrakan karambol saat perjalanan turun.

Perjuangan menuju puncak Everest
Perjuangan menuju puncak Everest

Tidak semua anggota rombongan berhasil mencapai puncak. Ada yang terkena high-altitude pulmonary edema (HAPE), dan harus kembali lagi. Ada yang terkena gangguan mata, dan tidak sanggup meneruskan ke puncak. Namun dia bertahan di tempat itu dan menunggu yang lain turun dari puncak. Ada juga yang berjuang dengan sisa-sisa kekuatannya untuk bisa ke puncak. Dan memang akhirnya dia sampai juga ke puncak. Namun malang, pada perjalanan turun, tubuhnya tak sanggup lagi bertahan, dan akhirnya di suatu tempat dia jatuh ke jurang.

Adapun Rob Hall, sebagai pemimpin pendakian, sampai juga ke Puncak menemani klien-kliennya. Namun ketika turun, dia bertemu dengan Doug, kliennya yang tengah berjuang dengan sisa tenaganya untuk mencapai puncak. Ketika diberitahu oleh Rob bahwa Doug sebaiknya turun saja, Doug bersikeras untuk ke puncak. Akhirnya Rob pun kembali ke puncak menemani Doug. Dalam perjalanan turun, Rob kehilangan Doug yang jatuh ke jurang. Selain itu, dia menjadi orang terakhir yang turun dan ditengah jalan dia dihadang badai yang dahsyat. Sementara cadangan oksigennya menipis.

Rob meminta bantuan rekannya Andy Harris yang saat itu di pertengahan jalan menuju camp, untuk dikirim tabung oksigen. Andy pun kembali ke atas dengan membawa tabung oksigen. Namun ternyata tabung oksigen yang dibawanya, ketika dicoba disambungkan ke alat pernafasan, tidak berfungsi. Kemungkinan karena sistem katupnya membeku, sehingga gas oksigennya tidak bisa keluar. Sementara badai masih berlangsung. Akibatnya keduanya terjebak di tengah badai, dan harus menghabiskan malam ditempat itu.

Pada suatu saat, Andy mengalami halusinasi. Andy merasa tubuhnya kepanasan, lalu membuka semua pakaian pelindungnya. Dia pun berjalan tak tentu arah, dan tanpa ampun tubuhnya jatuh ke jurang. Rob yang saat itu dalam kondisi tidur setengah pingsan, tidak menyadari hal buruk yang menimpa rekannya itu. Keesokan harinya, baru Rob sadar bahwa Andy sudah tiada.

Rob masih sempat berkomunikasi dengan timnya di basecamp dengan radio komunikasi, bahkan sempat berbicara dengan istrinya di New Zealand. Satu tim penyelamat pun sudah dikirim keatas untuk menjemput Rob. Namun kenyataan berkata lain. Badai yang masih besar menghalangi tim penyelamat dan tidak bisa mencapai tempat Rob terjebak. Mereka harus kembali ke Camp atau mereka pun akan terjebak. Rob pun akhirnya menghembuskan nafas yang terakhirnya di gunung Everest....


***
Dalam tulisan ini saya tidak akan mereview film ini secara teknis, karena saya bukanlah seorang pengamat film ^_^. Disini saya lebih mengungkapkan apa yang saya rasakan ketika sedang menonton film tersebut dan setelahnya.

Banyak pesan dan pelajaran yang saya dapat dari film ini. Salah satunya adalah: "Ojo Dumeh" atau "Jangan Sok", jangan merasa kuat, merasa tahu, dan berbagai perasaan-perasaan SUPERIOR lainnya. Melihat bagaimana ekstrimnya lingkungan di Everest, saya jadi sadar bahwa manusia itu lemah. Tubuh manusia yang hanya terdiri dari rangkaian tulang dan daging ini, sangatlah rapuh. Sekuat apapun kita, kita bukanlah tandingan Alam.

Namun demikian, bukan berarti kita juga harus berpaling dari tantangan. Medan berat dan mematikan seperti jalur pendakian Everest tetap bisa kita jalani dan mencapai puncak. Buktinya banyak yang berhasil mencapainya. Namun tentunya dengan persiapan dan pertimbangan yang matang. Singkatnya Risk Management sangatlah dibutuhkan dalam melakukan kegiatan petualangan seperti ini. Dan satu lagi yang lebih penting dari Risk Management yaitu Do'a. Sebaik apapun persiapan kita, sesempurna apapun perhitungan kita, kalau Allah menakdirkan lain, semua Risk Management itu akan kalah. Karenanya dalam setiap kegiatan, kita jangan melupakan sang Pencipta.


Pelajaran yang lain yang saya dapat dari Film Everest ini adalah tentang kondisi alam di Everest. Suasana yang disajikan di film cukup memberikan gambaran pada kita tentang medan pendakian "tidak manusiawi" di pegunungan Himalaya.


Ketinggian 8,848 mdpl, bukanlah tempat yang layak dihuni oleh manusia, bahkan mungkin tidak layak juga dihuni oleh mahluk planet bumi lainnya. Karena pada ketinggian ini, kadar Oksigen di Udara sangat sangat rendah. Selain itu suhunya juga beku. Kalau kita berada disana tanpa peralatan pendukung terutama tabung oksigen dan pakaian pelindung, bisa dipastikan kita tidak akan dapat bertahan.


Belum lagi ancaman berbagai gangguan fisik yang bisa timbul akibat ketinggian seperti HAPE (High Altitude Pulmonary Edema), HACE (High Altitude Cerebral Edema), HAFE (Hight Altitude Flatus Expulsion), dsb. Yang kesemuanya bisa berakibat fatal.

Oh iya, satu hal lagi, kalau dalam pendakian di kita (Indonesia), hal yang sangat berharga adalah "air". Ketika mendaki gunung Semeru misalnya, kita masih bisa mencapai puncak tanpa harus membawa tabung Oksigen, namun kita harus membawa bekal Air yang cukup. Kalau tidak maka kita bisa dehidrasi. Dan pada kondisi yang parah, dehidrasi pun bisa berakibat kematian.

Nah, di Everest, hal yang sangat berharga adalah tabung oksigen. Selain air dan makanan, tabung oksigen adalah hal yang sangat sangat penting.

Dua hal ini (Air dan Oksigen), dalam kehidupan normal sehari-hari suka dianggap sepele bahkan diabaikan.


BTW, kita mungkin boleh semangat untuk bisa mendaki Everest. Namun semangat saja tidak cukup, karena kita harus mempunyai fisik yang prima untuk bisa melakukan pendakian. Dan satu hal lagi, biaya pendakian Everest itu sangat mahal ^_^. Pada tahun 1996, saat tragedi ini terjadi, biaya perjalanannya mencapai USD 65,000,-/orang. Kalaupun sekarang harganya masih sama 65 ribu dolar, dengan kurs 1 USD = 14,000 rupiah aja, maka biayanya sebesar 910,000,000 , hampir 1 Milyar!

Namun demikian saya tidak berkecil hati. Mudah-mudahan saja entah dapat rejeki dari mana, saya tetap bisa melakukan pendakian ke Everest.

Amiiin....


PS:
Dalam tim Rob Hall ini ada seorang Reporter bernama John Krakauer. John merupakan salah satu yang selamat dari tragedi ini. Pengalamannya dalam pendakian Everest ini dituangkannya dalam sebuah buku berjudul "Into Thin Air: A Personal Account of the Mt. Everest Disaster".

***