Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Feb 22, 2016

Relawan Sosmed Penjilat



“Relawan Sosmed Penjilat”, saya membaca pernyataan itu pada status facebook seorang “friend”. Begitu membaca kalimat itu, saya merasa disengat. Ternyata ada ya orang yang punya pandangan seperti itu. Terus yang dimaksud “Relawan Sosmed Penjilat” itu yang seperti apa?

Saya pun mulai introspeksi diri…

Saya suka menulis blog, lumayan aktif di beberapa channel social media, seperti twitter, Instagram, dan Path. Saya bergabung di beberapa komunitas blogger. Saya juga terkadang hadir di acara-acara yang disponsori oleh suatu brand. Kehadiran saya di acara tersebut adalah sebagai blogger, yang meliput acara tersebut. Setelah acara selesai, saya menuliskan pengalaman saya selama mengikuti acara tersebut di blog. Well… memang ada beberapa hal yang “dipesankan” oleh si pemilik brand, seperti misalnya, jika saya menuliskan nama brand, maka disertakan juga hyperlink ke website si brand tersebut, dsb.

Apakah dengan datangnya saya di acara tersebut dan menikmati semua fasilitas yang ada, kemudian menuliskan pengalaman saya di blog, itu termasuk aktifitas “Menjilat?”.

Narik napas panjang…. ^_^

Baiklah, saya akan usahakan menuliskan pendapat saya se-netral mungkin mengenai hal ini. Saya tidak membenarkan maupun menyalahkan terhadap pernyataan “Relawan Sosmed Penjilat”.

Who am i
Untuk memulainya, saya coba dengan melihat beberapa website besar internasional. Saya biasa membuka gizmag.com, inhabitat.com, techcrunch.com, dan beberapa lagi. Pada website-website blog ini, mereka terkadang menuliskan cerita mereka ketika menghadiri suatu acara. Namun, mereka mengkhususkan di suatu bidang. Semisal gizmag.com, mereka mengkhususkan di bidang teknologi, meski memang lingkup teknologi secara luas, seperti teknologi luar angkasa, teknologi otomotif, teknologi kesehatan, dan inovasi-inovasi teknologi terbaru di berbagai bidang lainnya. Dan acara-acara yang mereka hadiri juga tentu saja seputar teknologi, seperti CES (Consumer Electronics Show, dsb).

Dari contoh diatas, bisa kita sebutkan bahwa Blogger atau Relawan Sosmed lainnya, memang harus memiliki identitas tentang diri mereka sendiri alias who am i. Seperti dokter atau ahli reparasi, mereka memiliki spesialisasi. Sehingga ketika orang memiliki suatu kebutuhan, dia akan mencari si spesialis tersebut.

Sekarang saya bertanya pada diri sendiri, who am i?
How can i help others?

Who are my readers/followers
Kembali ke contoh gizmag.com. Website ini dibaca oleh 5 juta orang setiap bulannya. Dan pengunjungnya rata-rata para penyuka teknologi. Sehingga angka 5 juta pengunjung tiap bulan ini bisa dikatakan unik dan yang membaca halaman-halamannya memang butuh informasi seputar teknologi.

Beberapa blogger/penggiat sosmed memiliki visitor/follower dengan angka yang signifikan. Saya tidak tahu pasti apakah angka tersebut murni pengunjung unik yang mencari informasi yang disajikan si blogger/penggiat sosmed tersebut, ataukah campuran dengan follower dari komunitasnya atau lebih parah dari itu, yakni angka follower yang ribuan tersebut adalah hasil membeli.

Di Indonesia sekarang ini sudah berdiri banyak sekali komunitas blogger maupun komunitas-komunitas sosial media lainnya. Rata-rata mereka saling follow dan saling baca. Sehingga meski suatu account itu memiliki katakanlah 1000 follower atau pembaca, mungkin saja followernya ini, bukan unik dan mencari informasi yang disajikan, tapi teman-teman mereka sendiri satu komunitas.

Jika demikian adanya, maka ketika suatu artikel dimuat di blog si Relawan Sosmed, maka pembacanya bukan dari segmen pembaca yang diharapkan, tapi ya hanya komunitas itu-itu saja.

Hemm… kalau saya jadi  pemilik brand, kemudian minta bantuan Relawan Sosmed untuk mempromosikan brand saya, namun ternyata promosi ini tidak menyebar ke masyarakat luas, hanya tersebar di satu komunitas saja. Kok rasanya gimanaaa gitu… ^_^’

How am i paying back
Tidak bisa dipungkiri, menjadi “Relawan Sosial Media” ini bisa mendatangkan rejeki. Suatu brand terkadang mengontrak Relawan Sosmed dengan nilai rupiah tertentu untuk mengiklankan produk mereka di sosial media. Ada juga brand yang menggunakan strategi lomba blog, dan menyediakan hadiah yang menarik. Atau mengadakan acara launching produk, kemudian mengundang Relawan Sosmed ke acara tersebut, dengan memberikan berbagai fasilitas dan doorprize menarik.

Adapun si Relawan Sosmed, sebagai imbal balik dari apa yang didapatnya ini, dia harus membuat konten yang menginformasikan ke masyarakat tentang brand tersebut.

Again, jika blog/social media saya hanya dibaca oleh teman-teman komunitas saja, bukan pembaca yang unik yang nyari informasi tentang itu, apakah ini telah “membayar utang” saya?

Seperti halnya iklan yang ditayangkan di tv nasional, yang ditonton ratusan juta orang, bukan ditonton oleh anggota “komunitas tv nasional” saja, maka “iklan” yang saya kemas dalam bentuk tulisan blog atau postingan social media ini haruslah menjangkau sebanyak mungkin orang, bukan hanya teman-teman saya di komunitas. That’s how I’m paying back.

Take and give balance
Dalam suatu kerjasama, terjadi proses memberi dan menerima (take and give). Dan kerjasama yang bagus adalah yang sama-sama menguntungkan, proses take and give-nya seimbang. Nah, dalam hal kerjasama Pemilik Brand dan Relawan Sosmed, tentulah harus seimbang juga take and give-nya. Jangan sampai Relawan Sosmed, banyak take tapi sedikit give, atau sebaliknya, pemilik Brand yang banyak take dan sedikit give.

Dari sudut pandang Relawan Sosmed, ketika kita melakukan lebih banyak take daripada give, maka dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa Relawan Sosial Media tersebut tidak bertanggungjawab atau sebut saja penjilat.

Ok, kita mendekati bagian akhir. ^_^

Dengan menjawab 4 pertanyaan:
-    Who am I
-    Who are my readers/followers
-    How am I payingback
-    Take and give balance


Saya bisa menentukan apakah yang saya lakukan ini adalah aktifitas menjilat atau bisnis.

Kalau termasuk bisnis, maka saya bisa menyangkal pernyataan "Relawan Sosmed Penjilat", dan dengan bangga saya akan mengatakan saya ini bukan Relawan Sosmed tapi Profesional Sosmed (Social Media Professional).

Namun kalau ternyata apa-apa yang saya lakukan ini termasuk penjilat, maka saya akan memperbaiki diri saya, seluruh aspeknya, sehingga tidak lagi menjadi penjilat tapi menjadi seorang Profesional Sosmed.

***
Kepada teman-teman di komunitas-komunitas blogger dan sosial media, saya mohon maaf kalau ada dari tulisan saya diatas yang menyinggung. Sedikitpun saya tidak bermaksud demikian. Saya sedang mencoba melakukan introspeksi diri, yang mudah-mudahan apa yang saya lakukan ini bisa memberikan manfaat kepada dunia per-sosial media-an di Indonesia.

Aamiin...