Featured Post

Mudahnya perpanjang STNK dengan eSAMSAT

Awalnya saya menyangka STNK motor saya itu habis masa berlakunya bulan Juni ini. Ternyata oh ternyata setelah dilihat lagi, tanggal berlaku...

Apr 4, 2017

MLM Vs. Ekonomi Kreatif

Bisnis
Bisnis

Ijinkan saya menuliskan apa yang ada dalam benak saya seputar MLM. Well, sebenarnya saya gak enak sama temen-temen yang sudah gabung di MLM dan bisnis serupa lainnya, namun saya ingin mengutarakan opini pribadi juga dengan maksud berbagi pemikiran saja, tidak untuk menyalahkan atau membenarkan.

Tentang MLM dan hubungannya dengan pembangunan Ekonomi, baik skala pribadi maupun yang skalanya lebih luas (Bisnis Keluarga, UMKM, sampai Industri skala besar).

Ada sebuah peribahasa Sunda yang berbunyi: Pajenggut-jenggut jeung nu botak (Jambak-jambakan dengan orang botak) 😅
Pengertian harfiahnya adalah: Kita dalam keadaan rugi, karena tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun peribahasa ini kita maknai secara bebas aja ya, yakni: kita mengharapkan sesuatu (dalam hal ini Uang) dari orang yang juga membutuhkan uang.

Dalam MLM, kita ini sedang pajenggut-jenggut jeung nu botak, karena peserta MLM juga punya tujuan yang sama dengan kita yakni
mengharapkan uang dari sistem MLM, bagaimanapun mekanismenya.

Masalahnya, baik kita maupun temen MLM kita, sama-sama botak 😅 alias tidak punya uang. Kalaupun terjadi transaksi, yang terjadi sebenarnya bukanlah si A mendapat uang dari si B, namun antara A dan B (dan C, D, E, dst.) hanyalah saling bertukar uang. Dan dalam MLM uangnya lebih banyak dialirkan ke "Cabang" dan "akar" dari pohon peserta MLM, dibanding ke ranting dan daun. Tak heran para "Cabang" dan "Akar" ini bisa mendapatkan uang yang fantastis, liburan ke luar negeri gratis, dan pendapatan wah lainnya, yang sebenarnya dana fantastis ini merupakan hasil "patungan" para ranting dan daun. ^_^'

Bagaimana memutus lingkaran ini?
Jawaban yang kepikiran oleh saya adalah Ekonomi Kreatif atau Ekonomi Membuat. Membuat apa? Ya membuat apa saja, yang jelas harus memberikan nilai tambah pada kehidupan manusia (mankind).

Yang memberikan nilai tambah ini bisa berupa barang atau bisa juga jasa. Misalnya, industri UKM yang mengolah sampah plastik jadi barang berguna, itu memberikan nilai tambah. Gojek, Uber, Grab, dan sebangsanya, itu menciptakan nilai tambah. Membuat peternakan lele dan abon tuna, itu menciptakan nilai tambah. Bahkan membuat dan menjual nasi uduk untuk kebutuhan sarapan, itu juga membuat nilai tambah.

Nilai tambah inilah yang kemudian dihargai dengan uang, tujuannya supaya nilai tambah ini dapat  dimiliki dan dimanfaatkan oleh orang lain secara mudah, cukup dengan menukarnya dengan sejumlah uang. Nah dalam hal ini kita jangan menggunakan peribahasa Tidak segalanya bisa diukur dengan uang.  Kalau peribahasa ini mah beda pokok bahasan he..he..

Dalam mekanisme menentukan harga untuk nilai tambah yang kita buat ini, harus berlaku Fair Value.  Nilai tambah yang kita buat (Produk atau Jasa) dihargai secara proporsional, jangan over pricing alias menjual kemahalan. Modal habis berapa, tenaga dihargai berapa, sarana dan prasarana berapa, upah berapa, dan komponen lainnya yang berperan menentukan harga, diterapkan secara adil.

Jangan seperti beberapa produk yang dijual secara eksklusif dalam sebuah jaringan MLM. Mereka memang membuat suatu produk baru yang bisa dikatakan memberikan nilai tambah, namun produk baru ini dijual secara tidak fair. Harga jualnya mahal sekali. Adapun alasan harganya mahal, adalah supaya margin keuntungan penjualan produk ini bisa dinikmati oleh hirarki peserta MLM. Ini tidak Fair.

Ekonomi Kreatif menghasilkan sesuatu kemudian dihargai uang. Semakin banyak nilai dihasilkan, semakin banyak uang yang terkumpul. Adakah yang dirugikan? pada kondisi ideal, tidak ada yang dirugikan, karena pada suatu transaksi, si pembeli mendapatkan nilai (produk atau jasa) dan si pembuat mendapatkan uang. Produk atau jasa ini diberi harga yang fair, sehingga si pembeli bisa memanfaatkannya dengan mengorbankan uangnya juga pada level yang fair, tidak kemahalan.

Saya langsung aja ke kesimpulan ya, biar gak bosen bacanya. 😁

Bigweld Robots find a need fill a need
Bigweld

Jadi, dalam hal pembangunan ekonomi baik skala pribadi maupun lebih luas, sebaiknya kita tidak Pajenggut-jenggut jeung nu botak 😁 Ada sebuah film animasi berjudul Robots keluaran tahun 2005, dalam ceritanya ada salah satu karakter bernama Bigweld, seorang pemimpin industri robot dan penemu, dia mempunyai semboyan Find a need fill a need. Carilah "masalah" atau "kebutuhan" di sekitarmu. Atasilah masalah dan kebutuhan tersebut. Maka uang akan mengikuti. Semakin banyak kita membuat solusi, semakin banyak orang yang mendapatkan manfaat dari nilai tambah yang kita buat, semakin banyak "pendapatan" kita.

Akhirul kata: Manusia paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain dan lingkungan disekitarnya.

🎼Find a need then fill a need, create something to fill the need. Earn money from that fairly, then we'll get rich honorably. (beat buatan saya, bacanya dengan gaya rap ya 😎😁)